Rabu, 08 Januari 2014

Teori Belajar dan Pembelajaran pada Anak Usia Dini


Makna Belajar melalui Bermain bagi Anak
Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya di manapun mereka memiliki kesempatan,karena melalui bermainlah anak belajar tentang apa yang ingin mereka ketahui. Hingga pada akhirnya mereka mampu mengenal semua peristiwa yang terjadi disekitarnya.
Piaget dalam Mayesty (1990 :42) mengatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/ kepuasan diri seseorang. Sedangkan Parten memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, diharapkan melalui bermain dapat memberikan kesempatan anak berekplorasi, menemukan, mengekpresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Selain itu kegiatan bermain dapat membantu anak mengenal tentang diri sendiri, dengan siapa dia hidup serta lingkungan tempat dimana ia hidup.
Berikut akan diuraikan beberapa pendapat ahli tentang bermain :
Buhler dan Danziger dalam Roger dan Sawyers (1995:95), berpendapat bahwa bermain adalah kegiatan yang menimbulkan kenikmatan, sedangkan Freud menyakini bahwa walaupun bermain tidak sama dengan bekerja tetapi anak menganggap bermain sebagai suatu yang serius.
Docket dan Fleer (2000:41-43) berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Vygotsky dalam Naugton (2003:46) percaya bahwa bermain membantu perkembangan kognitif anak secara langsung. Ia menegaskan bahwa bermain simbolik memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan berpikir abstrak. Sejak anak bermain pura-pura, maka anak menjadi mampu berpikir tentang makna-makna objek yang mereka representasikan secara independen. Berhubungan dengan pembelajaran, Vygotsky dalam Naugton (2003:46) berpendapat bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak. Dalam bermain, anak selalu berperilaku di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya sehari-hari, dalam bermain anak dianggap “lebih” dari dirinya sendiri.
Terdapat dua ciri utama bermain yaitu :
a.    Semua aktivitas bermain representasional menciptakan situasi imajiner yang memungkinkan anak unutk menghadapi keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata
b.    Bermain representasional memuat aturan –aturan berperilaku yang harus diikuti oleh anak untuk dapat menjalankan adegan bermain
Irawati berpendapat bahwa bermain adalah kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada di rentang usia 3-6 tahun. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, memberi kesenangan dan mengembangkan imajinasi anak spontan dan tanpa beban. Pada saat pembelajaran berlangsung hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan kreativitas. Anak-anak memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk bermain, memadukan sesuatu yang baru dengan apa yang telah diketahui.

2.3 Periode sensitif untuk belajar
Dalam proses tumbuh kembang, Anak melewati sebuah periode  dimana anak menjadi peka atau mudah terstimulasi oleh aspek-aspek yang berada dilingkungannya. Periode ini periode sensitif.
Montessori mengindikasikan bahwa anak-anak tumbuh dan berkembang melalui sejumlah tahapan dengan ketertarikan dan keingintauhan akan sesuatu hal yang disebut periode sensitif, dimana seorang anak menjadi tertarik terhadap aspek-aspek tertentu dari lingkungan. Masa ini juga merupakan masa dimana seorang anak sangat mudah untuk belajar dan terpengaruh dari lingkungannya. Oleh karena itu masa ini dapat dimanfaatkan pengasuh dalam membentuk perilaku anak.
Setiap periode sensitif adalah khusus dan bersifat mendesak-memaksa, dan sekaligus memotivasi anak untuk fokus secara sungguh-sungguh pada beberapa aspek tertentu pada lingkungannya, setiap harinya tanpa menjadi lelah atau bosan (Montessori dalam Seldin, 2007:15).  Ini merupakan suatu mekanisme ilmiah dimana anak berusaha mengembangkan bakat dan keterampilannya yang juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Awal dan akhir periode sensitif berbeda-beda pada setiap anak,  sehingga penting untuk mengawasi dan merespon anak secara individu. Proses belajar pada periode sensitif sangat penting sebagai fondasi perkembangan anak.
Montessori dalam Seldin (2007:15) mengatakan masa ini merupakan “kesempatan yang terbatas”. Pada masa ini anak belajar akan hal-hal yang baru, mengembangkan keterampilan baru serta aspek kemampuan berpikir tanpa rasa “sakit” dan hampir tanpa disadari.  Periode sensitif adalah tahapan transisi dimana jika anak telah menguasai suatu keterampilan , periode sensitif terlihat lenyap, sehingga jika tidak dihadapkan pada stimulasi ynag benar, kesempatan itu akan hilang begitu saja. Keterampilan masih dapat dipelajari akan tetapi saat ini membutuhkan waktu dan usaha yang benar.
Montessori dalam Seldin (2007:14-17) mengindentifikasikan beberapa perbedaan dalam periode sensitif yang terjadi dari mulai lahir sampai usia 6 tahun, yaitu:
1.    Gerakan (Lahir-1 tahun)
Gerakan acak bayi menjadi terkoordinasi dan terkontrol seperti halnya belajar menggenggam, menyentuh, berbalik, keseimbangan, merayap dan berjalan.

2.    Bahasa (Lahir-6 tahun)
Diawali dengan belajar bersuara, bayi akan mengalami kemajuan dengan mengoceh kata-kata, suku kata dan akhirnya kalimat.

3.    Objek Kecil (1-4 tahun)
Bayi akan mendekatkan benda kecil ke mukanya dan dari hal-hal yang detail sebagai kemajuan koordinasi mata-tangan yang semakin lama menjadi sempurna dan akurat.

4.    Urutan (2-4 tahun)
Segala sesuatu harus pada tempatnya. Tahapan ini merupakan ciri-ciri dari bayi  yang suka terhadap hal-hal yang rutin dan keingintahuan pada konsistensi dan pengulangan.

5.     Musik (2-6 tahun)
Bila musik merupakan bagian dari leluasanya setiap hari, anak-anak akan menunjukkan keinginan yang spontan dalam intonasi, irama dan melodi.

6.    Toilet Training (10 bulan-3 tahun)
Saat sistem persyaratan anak menjadi lebih baik berkembang dan berintegrasi, anak-anak kita akan belajar mengontrol kantung kecil dan perut.

7.    Kehormatan dan Santun (2-6 tahun)
Anak akan cinta pada kesopanan dan sikap yang bijaksana yang akan terinternalisasi kedalam kepribadiannya.

8.    Alat Indera (2-6 tahun)
Pendidikan penginderaan dimulai saat lahir, tetapi dari usia 2 tahun anak akan sangat menyukai pengalaman inderanya.

9.    Menulis (3-4 tahun)
Keterampilan menulis ini mendahului membaca dan dimulai dengan usaha untuk memproduksi huruf-huruf dan angka-angka dengan pensil dan kertas.

10.    Membaca (3-5 tahun)
Anak menunjukkan keinginan yang spontan dalam simbol dan suara-suara yang dikeluarkan tak lama kemudian mereka menyuarakan kata-kata.

11.    Hubungan Spasial (4-6 tahun)
Saat pemahaman hubungan bentuk-bentuk, anak akan berkembang sebagai contoh ia akan mampu mengerjakan puzzle-puzzle yang sulit.

12.    Matematika (4-6 tahun)
Belajar hitung, jumlah dan mengenal angka dengan memberikan pengalaman nyata untuk anak.


2.4 Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini

Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia didni berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus didmilki oleh anak (Sujiono dan Sujiono, 2007; 2006).

1.    Hakikat Program Pembelajaran pada Anak Usia Dini

Bennett, finn, dan Cribb (1999:91-100), menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalamn belajar melelui kegiatan bermain yang dapat memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir tentang diri sendiri, tanggapa pada pertanyaan, dapat memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternatif. Selain itu, pembelajaran juga dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kebiasaan dari setiap karakter yang dapat dihargai oleh masyarakat serta mempersiapkan anak-anak untuk memasuki dunia orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab.

Menurut Kitano dan Kirby (1986:127-167), pembelajaran haruslah terkait dengan pengembangan kurikulum yang merupakan rencana pendidikan yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi pembelajaran dalam rangka menghasilkan perubahan prilaku yang potensial. Kurikulum yang komprehensif seharusnya memilki elemen utama dari setiap bidang pengembangan yang disesuaikan dengan tingkatan atau jenjang pendidikannya serta  mengetengahkan target pencapaian peserta didik yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan.

Unsur utama dalam pengembangan pembelajaran anak usia dini adalah bermain. Pendidikan awal dimasa kanak-kanak diyakini memilki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan selajutnya. Menurut Albrecht dan Miller (2000:216-218), pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
2.    
Tujuan dan Fungsi Program pembelajaran

Menurut Catron dan Allen (1999:23), tujuan pembelajaran yang utama adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Kurikulum unutk anak usia dini seharusnya memfokuskan pada perkembangan yang optimal pada anak melalui lingkungan yang ada disekitarnya yang juga dapat menggali berbagai potensi tersebut melalui permainan serta hubungan dengan orang tua dan orang dewasa lainnya. Catron dan Allen juga berpendapat bahwa seharusnya kelas-kelas bagi anak usia dini merupakan kelas yang mampu memciptakan suasana yang kreatif dan penuh dengan kegembiraan.

Tujuan suatu program pembelajaran adalah untuk membantuk meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan ke tahap selanjutnya. Untuk mencapai tujuan program pembeljaran tersebut, ada beberapa strategi pembelajaran bagi anak usia dini yang berorientasi pada :
a.   Tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia anak.
b.  Materi yang diberikan harus sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai tahap perkembangan anak (DAP = Developmentally Approriate Practice).
c.   Metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif kreatif serta menyenangkan.
d.  Media dan lingkungan yang digunakan haruslah aman, nyaman, dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi.
e.  Evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah sebuah rangkaian assesment melalui observasi partisipatif terhadap segala sesautu yang didlihat, didengar, dan diperbuat oleh anak (Bredekamp, 1998:30-31).

3.   Fungsi Program Pembelajaran

Progam pembelajaran memilki beberpa fungsi yaitu :
a.    Untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap  perkembangannya.
b.    Mengenalkan anak dengan dunia sekitar.
c.     Mengembangkan kemampuan sosialisasi anak.
d.    Mengenalakan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
e.     Memberi kesempatan pada anak untuk menikmati masa bermainnya.

Berdasarkan paparan diatas, maka tujuan pembelajaran pada anak usia dini adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh berdasarkan berbagai dimensi perkembangan anak usia dini baik perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan ke tahap selanjutnya.

2.5 Model Pembelajaran Anak Usia Dini

Pembelajaran anak usia dini memiliki dua jenis model yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada anak. Pembelajaran yang berpusat pada guru diprakarsai oleh Pavlov, Skinner, dan para tokoh behavioris lainnya. Adapun teorinya yaitu, dalam penelitian Pavlov banyak mengamati perilakau hewan, bahwa jika hewan diberi stimulus tertentu, maka menimbulkan respons yang tertentu sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh perilaku manusia dapat dijelaskan atau diamati sebagai respons yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungan.

Pembelajaran yang berpusat pada anak di prakarsi oleh Piaget, Erikson, dan Isaacs. Adapun teori perkembangannya yaitu, para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak memiliki motivasi diri yang dimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu. “Motivasi berkemampuan” inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli psikologi sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak. Dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang akan menjadi kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang.

Penerapan Pembelajaran Berpusat pada Anak dan Guru

Metode pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran memberikan kesempatan dan kebebasan pada anak untuk mengemukakan pemikirannya, mereka mengemukakan pemikirannya sendiri dan mengidentifikasikan kegiatannya. Segala sesuatu yang munculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang terpenting dalam metode yang berdasarkan permainan adalah kebebasan anak dalam bermain. Kebaikan dari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai.

Sedangkan pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istialh, pengajaran langsung, dimana guru memberikan petunjuk langsung tentang apa yang harus dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak.

karakteristik mengajar berdasarkan kegiatan pembelajaran berpusat pada anak dan yang berpusat pada guru

Pembelajaran Berpusat pada Anak
Pembelajaran Berpusat pada Anak
Bahan, ruang, dan waktu
Digunakan secara bebas
Berdasarkan petunjuk guru
Peran guru
Mengikuti minat dan keinginan anak, pengalaman langsung, dan berpusat pada anak
Langsung, inisiasi, mengevaluasi, menekan, dan berdasarkan penampilan anak
Kerangka kerja pengajaran
Berorientasi pada kegiatan: menguji, menggali dan mempunyai tantangan
Memiliki tahapan berdasarkan tujuan akhir yang akan dicapai
motivasi
Keinginan belajar intrinsik
Eksternal, berdasarkan penghargaan
Konsep belajar
Pengalaman langsung menggunakan pengetahuan untuk dalam bermain untuk memahami situasi yang nyata.
Drill atau pengulangan untuk menguasai keterampilan.
Individual vs fokus kelompok
Individual, berdasarkan kebutuhan anak
Kebutuhan kelompok sebagai satu kesatuan. Kemampuan untuk berkelompok
Metodologi
Kebebasan sepenuhnya bagi guru untuk menggunakan intuisi, perasaan dan penilaian
Berdasarkan model / contoh yang dilihat

Proses pembelajaran anak usia dini harus didasarkan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, berikut ini :
1.  Proses kegiatan belajar pada anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip belajar melalui bermain.
2.   Proses kwgiatan belajar pada anak usia dini dilaksanakn dalam lingkungan yang
kondusif dan inovatif baik didalam ruangan maupun diluar lingkungan.
3.  Proses kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu.
4.  Proses kegiatan belajar anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu.

1 komentar: