Rabu, 08 Januari 2014

Stimulus-Respon


RIWAYAT HIDUP DOLLARD DAN MILLER
A.   JOHN DOLLARD (1900-1980)

Dollard lahir di Menasha, Wisconsin tanggal 29 Agustus 1900. Dollard menerima gelar A.B dari Universitas Wisconsin pada tahun 1922. Berturut-turut meraih gelar M.A tahun 1930 dan gelar Ph.D nya dalam bidang sosiologi tahun 1931. Dari tahun 1926-1929 ia menjadi salah seorang pembantu rektor Universitas Chicago. Tahun 1932, ia menerima jabatan lektor di bidang antropologi di Universitas Yale, tahun 1933 Dollard menjadi profesor sosiologi di Institute of Human Relations, tahun 1935 ia menjadi peneliti pada Institute of Human Relations dan pada tahun 1948 menjadi peneliti dan profesor di bidang psikologi. Dollard menghabiskan waktunya di Jerman sebagai anggota Dewan Penelitian Ilmu Sosial dalam psikologi sosial. Dollard juga belajar psikoanalisa dengan Hans Sacs (pengikut Sigmund Freud) dan mengikuti pelatihan analisis di Institute Berlin, dimana analis pelatihnya adalah Karen Horney.

Di Amerika, Dollard menjadi anggota dari The Western New England Psychoanalytic Society. Karya pertama Dollard berjudul Caste and and Class in a Southern Town (1937) menjadi contoh karya awal analisis kebudayaan dan kepribadian. Di Universitas Yale, Dollard bertemu dengan Neal Miller yang sedang belajar untuk meraih Ph.D nya. Mereka bekerja sama menulis suatu monografi berjudul Frustation and Aggresion (1939) yang dibantu oleh Leonardo Dobb, O. Hobart Mowrer dan Robert Sears. Karya ini disusul oleh buku berjudul Children of Bondage (1940) yang ditulis bersama Allison Davis.

Kemudian Dollard dan Miller kembali bekerja sama dalam penulisan buku Social Learning and Imitation (1941) dan Personality and Psychotherapy (1950). Karya-karya Dollard lainnya antara lain: Victory over fear (1942) dan Fear in battle (1943), Steps in psychotherapy (1953) yang diterbitkan bersama Frank Auld dan Alice White, Scoring human motives (1959) yang diterbitkan bersama  Frank Auld, dan suatu monograf berjudul Criteria for the life story (1936). Berdasarkan Miller (1982), Dollard merupakan salah satu psikoterapis yang pertama kali merekam wawancara psikoterapis. Dollard meninggal pada tahun 1980. Keyakinan Dollard dan dedikasi pribadinya terhadap penyatuan ilmu-ilmu pengetahuan sosial tidak hanya tercermin dalam tulisannya, tetapi juga dalam fakta bahwa ia pernah mengemban tugas-tugas akademik di bidang antropologi, sosiologi, dan psikologi pada suatu universitas.

B.   NEAL ELGAR MILLER

Neal Miller lahir di Milwaukee, Wisconsin tanggal 3 Agustus 1909 dan besar di Bellingham, Washington. Ayahnya seorang psikolog dan juga pemimpin Department of Education and Psychology of Western Washington State Teachers College. Miller menerima gelar sarjana mudanya tahun 1931 dari Universitas Washington, meraih gelar M.A tahun 1932 dari Universitas Stanford dibawah bimbingan Lewis M. Terman dan kemudian meraih gelar Ph.D nya tahun 1935 dari Universitas Yale dibawah asuhan Clark L Hull.  Saat belajar untuk meraih gelar doktor tahun 1932-1935, Miller bekerja sebagai asisten di bidang psikologi pada Institute of Human Relations. Pada saat inilah ia bertemu dan bekerja sama dengan John Dollard. Tahun 1935 Miller pergi ke Eropa dan menjadi anggota Social Sains Research Council.

Saat di Vienna, selama 8 bulan ia mengikuti psikoanalisis bersama Heinz Hartmann di Institute Psychoanalysis Vienna. Saat kembali ke Amerika tahun 1936, Miller bergabung menjadi pengajar di Institute of Human Resources di Universitas Yale. Saat ini Miller merupakan pensiunan Guru Besar Universitas Rockfeller. Miller dan istrinya, Marion E. Edwards, tinggal di kota New York. Miller memiliki dua anak yaitu Sara dan York. Miller pernah menjadi konsultan pada komite di sejumlah institusi pemerintah dan swasta diantaranya The National Research Council, The National Institute of Mental Health dan The American Institue of Research.

Miller banyak menerima penghargaan diantaranya ; tahun 1954, dia dianugerahi medali dari Howard Crosby Warren dibidang psikologi eksperimen pada kemasyarakatan. Tahun 1957 The American Association of The Advancement of Science memberikan Miller Newcomb Cleveland. Tahun 1959 menerima penghargaan dari The American Psychological Association’s Distinguished Scientific Contribution Award. Tahun 1965 ia dianugerahi medali di bidang ilmu pengetahuan dari presiden. Miller juga mendapat medali emas dari The American Psychological Foundation’s Gold Medal pada tahun 1975. Tahun 1952-1953 Miller terpilih sebagai President of the Estearn Psychological Association dan The American Psychological Association (APA) pada periode 1960-1961. Tahun 1980 Miller mengetuai delegasi pertama psikolog Amerika ke China. Penelitian Miller menekankan pada Biofeedback and Behavioural Medicine. Miller meninggal pada tahun 2002 di usia 92 tahun.   

 STRUKTUR KEPRIBADIAN

          Dollard dan Miller kurang menaruh minat pada unsur-unsur struktural atau unsur-unsur yang relatif tak berubah dalam kepribadian. Secara konsisten mereka lebih berminat pada proses belajar dan perkembangan kepribadian. Kebiasaan (habit) merupakan satu-satunya elemen yang memiliki karakteristik struktural pada teori Dollard-Miller.
            Meskipun kepribadian terutama terdiri dari kebiasaan-kebiasaan, namun struktur khusus kebiasaan-kebiasaan itu akan tergantung pada peristiwa-peristiwa unik yang pernah dialami oleh individu yang bersangkutan. Selanjutnya, struktur ini hanya bersifat sementara, kebiasaan-kebiasaan seseorang hari ini dapat berubah sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya keesokan harinya. Akan tetapi, mereka berusaha menekankan dengan panjang lebar bahwa segolongan kebiasaan-kebiasaan yang penting bagi manusia dihasilkan oleh stimulus-stimulus verbal, baik stimulus-stimulus yang dihasilkan oleh orang-orang itu sendiri maupun oleh orang lain dan bahwa respon-responnya seringkali juga bersifat verbal.
            Menurut Dollard-Miller, aspek dari kepribadian yang relatif stabil adalah kebiasaan (habit) dan dorongan sekunder. Sejumlah kebiasaan dapat melibatkan respon-respon internal yang dapat membangkitkan stimulus-stimulus internal yang memiliki sifat-sifat dorongan. Contoh dorongan yang dihasilkan oleh respon dan yang bersifat dipelajari adalah pemeriksaan rasa takut.
            Akan tetapi, dorongan-dorongan primer dan hubungan-hubungan bawaan itu selain kurang penting dalam tingkah laku manusia dibandingkan dengan dorongan-dorongan sekunder dan jenis-jenis kebiasaan lainnya, juga menentukan sifat-sifat yang sama-sama dimiliki oleh semua individu sebagai anggota spesies yang sama dan bukannya menentukan keunikan mereka.

DINAMIKA KEPRIBADIAN

Dollard-Miller sangat menaruh perhatian pada motif, atau dorongan, dan tidak tertarik pada penjabaran atau pengklassifikasian motif-motif tertentu. Mereka fokus pada motif-motif yang menonjol, seperti kecemasan, dan menganalisa perkembangan dan perluasannya. Mereka berusaha mengilustrasikan proses umum yang berlaku pada semua motif.
Dalam kehidupan manusia, munculnya dorongan sekunder didasari oleh dorongan primer, seperti lapar, haus dan sex.  Bekerjanya dorongan primer dapat dilihat dari proses perkembangan atau pada periode krisis.
Dollard-Miller menjelaskan bahwa tidak hanya dorongan sekunder yang bisa menggantikan dorongan primer, tetapi reward sekunder juga dapat menggantikan reward primer. Contohnya senyuman seorang ibu dapat menjadi reward sekunder bagi si bayi karena terus menerus diasosiasikan dengan pemberian makan, popok dan sebagainya.
Reward sekunder dapat memperkuat tingkah laku dimana kapasitasnya tidak terbatas, kecuali jika reward sekunder terjadi bersamaan dengan penguat primer.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Miller dan Dollard adalah tokoh dari teori kepribadian yang menemukan proses transformasi dari masa bayi yang sederhana sampai masa dewasa yang kompleks, yang merupakan hal penting dari masalah perkembangan. Dalam hal ini, kita dapat melihat bagaimana dasar psikoanalisis dan dasar dari teori umum belajar bersama-sama menghasilkan teori perkembangan normal.

&       INNATE EQUIPMENT: SIMPLE RESPONSE AND PRIMARY DRIVE
Bayi memiliki sedikit refleks khusus, yang kebanyakan respon khusus untuk stimulus yang spesifik. Sebagai contoh: ketika kita memegang dagu bayi, biasanya akan menyebabkan bayi memalingkan kepalanya kearah rangsangan. Respon ini disebut sebagai rooting refleks.
Bayi juga memiliki innate hierarchies of response, atau kecenderungan munculnya beberapa respon terhadap situasi stimulasi tertentu sebelum beberapa respon lainnya muncul. Sebagai contoh bayi cenderung menghindar dari stimulus yang tidak menyenangkan sebelum akhirnya dia menangis.
Akhirnya, bayi memiliki seperangkat primary drives, atau stimuli internal yang kuat dan menetap, yang biasanya dihubungkan dengan proses fisiologi. Drives ini contohnya lapar, haus, dan sakit memotivasi organisme untuk bereaksi tetapi tidak untuk menentukan reaksi khusus apa yang akan muncul.
Dollar dan Miller menjelaskan prinsip pembelajaran untuk beberapa fenomena, yaitu seperti bagaimana organisme memberi respon awal terhadap stimulus baru, bagaimana organisme dapat memunculkan respon-respon baru, bagaimana organisme mengurangi respon- respon lama dan bagaimana organisme membangun motif atau dorongan baru

&       A MODEL FOR DEVELOPMENT: SECONDARY DRIVE AND THE LEARNING PROCESS   
Eksperimen ini mengilustrasikan bagaimana dorongan skunder terhadap rasa takut atau rasa cemas dipelajari. Eksperimen Dollard dan Miller juga memperlihatkan cara kerja empat komponen dasar dari proses belajar seperti: dorongan, isyarat, respon, dan reinforcement.

Dalam eksperimen ini, Dollard-Miller memakai tikus sebagai subjek penelitian yang nantinya akan diletakkan ke dalam sebuah kotak. Tikus yang digunakan adalah tikus yang belum pernah mendapat stimulus “kejutan listrik (shock)”. Bel listrik atau buzzer akan dibunyikan untuk mendemonstrasikan bahwa buzzer tanpa shock tidak menghasilkan efek khusus. Dollar-Miller ingin mendemonstrasikan bahwa dorongan belajar terhadap rasa takut yang diperoleh sebagai respon terhadap buzzer yang disertai kejutan listrik yang menstimuli tikus untuk belajar melompati daerah yang berarus listrik atau menekan pengungkit kejutan listrik tersebut, perilaku demikian akan diberikan reward dengan menghentikan kejutan listrik.

 Seperti yang telah diperkirakan, tikus- tikus yang terkontrol diperkirakan tidak menunjukkan perubahan sistematis pada tingkah lakunya dipercobaan manapun. Oleh karena itu jelas bahwa sebagai hasil perpaduan bel listrik dengan kejutan listrik, subjek eksperimen akan mempelajari respon-respon yang sebelumnya dia belum pernah pelajari.

&       CLASSICAL CONDITIONING OF A FEAR RESPONSE

Seperti yang dijelaskan diawal, beberapa jenis belajar telah terjadi. Pertama, lewat classical conditioning, tikus telah belajar untuk takut terhadap buzzer. Inisial neutral buzzer dipasangkan dengan unconditioned stimulus (US) yaitu kejutan, yang biasanya mendatangkan pola kepribadian yang khas yang disebut unconditioned response (UR). Setelah neutral buzzer dihadirkan dengan US dalam beberapa waktu, neutral stimulus mendatangkan respon yang didatangkan oleh US. Neutral stimulus tersebut disebut conditioned response (CR). Tikus pada akhirnya memberikan respon sebagai antisipasi rasa sakit atau takut (CR) walaupun suara buzzer (CS) tidak diikuti dengan electric shock.

Dalam eksperimen mereka, UR terhadap rasa sakit dan distress yang mereka duga dari perilaku menggigit dan mencicit dapat diubah menjadi CR terhadap rasa takut, sebagai berikut: shock mendatangkan beberapa respon internal yang dihubungkan dengan rasa sakit (disimbolkan Remot ), dan respon internal tersebut berkembang menjadi pola internal stimulus. Stimulis internal, sama seperti stimulus eksternal, memiliki kapasitas untuk memulai respon selanjutnya, yang disebut sebagai drive stimuli( SD), drive stimuli yang terobsesi berlawanan dengan tingkah laku eksternal tikus (mencicit, menggigil, atau yang disimbolkan sebagai Remot ) yang telah dijabarkan sebelumnya.

Saat buzzer sendiri dating untuk mendatanagkan rangkaian yang sama, maka rangkaian itu disebut conditioned response (CR). Internal dari drive stimuli yang dihasilkan oleh respon yang telah dipelajari dianggap sebagai learned drive yang disebut sebagai rasa takut atau rasa cemas.
Dalam peristilahan Dollard-miller serta Hull, kebiasaan merupakan hubungan antara stimulus (buzzer) dan respon ( Remot) yang telah tersusun tidak dapat terputus lagi. Dalam teori Hull, agar kebiasaan itu tersusun, bukan saja stimulus dan respon saja yang harus dekat satu sama lain dalam ruang dan waktu, tetapi respon harus diiringi dengan reinforcement atau reward. Apabila kondisi seperti ini terjadi, semakin sering stimulus dan respon muncul bersamaan, maka kebiasaan yang muncul akan semakin kuat.

&       LEARNING AND EXTINGITION OF INSTRUMENTAL BEHAVIOR

Tikus dalam eksperimen mereka, mempelajari sebuah kesepakatan yang baik daripada ketakutan dalam reaksi. Tikus tersebut melompat sekat agar dia dapat pindah ke ruangan lain saat mendengar buzzer, lalu karena tikus-tikus itu banyak beraktivitas umumnya tikus tersebut melompati penyekat bolak-balik dan mungkin saja tanpa sengaja menekan pengukit, sehingga arus listrik terhenti. Disini terjadi dua respon yaitu hurdle-jumping dan lever-pressing (melompat sekat dan menekan pengukit) yang disebut sebagai operant conditioning. Karena hal itu, tikus-tikus menjadi tahu bahwa ada pengungkit yang harus ditekan untuk mematikan arus listrik.

Mengingat dalam kejadian yang pertama dalam buzzer-shock, tikus-tikus mencicit dan bergetar. Mengapa tidak terjadi proses pembelajaran? Mengapa hanya melompat sekat? Ini terjadi hanya karena akhirnya diikuti oleh reinforcement yaitu penghentian kejutan listrik.

Ada empat unsur konseptual yang penting dalam hal belajar, yang dikemukakan oleh Dollard dan Miller, yaitu:
r   Drive
Drive merupakan stimulus yang kuat dan memaksa subjek untuk melakukan sesuatu yang tidak lajim dilakukannya. Seperti pada percobaan mereka, contohnya karena adanya rasa sakit sehingga memaksa tikus-tikus untuk melakukan sesuatu agar terlepas dari rasa sakit tersebut, tetapi tikus- tikus tersebut tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Tetapi akhirnya, ia memperoleh petunjuk.
Kekuatan dari dorongan itu akan memunculkan  stimulus yang intensif.  Perkiraan dalam percobaan, tikus- tikus diberikan kejutan yang ringan, usaha yang dilakukan mereka untuk keluar dari rasa sakit itu sangatlah besar.
Sama pentingnya bahwa dorongan itu doperoleh dari dasar dorongan. Dalam percobaan mereka, dorongan ketakutan dibangun dari dorongan rasa sakit.
Kuat lemahnya dorongan tergantung kepada intensitas dari stimulus. Semakit kuat dorongan itu, maka makin banyak pula tingkah laku yang dimunculkan.

r   Cue
Cue merupakan stimulus yang bergantung kapada respon yang muncul secara alami. Tikus- tikus tersebut melakukan hurdle-jumping merespon kepada petunjuk umum. Tikus tersebut melanjudkan untuk merespon kejutan oleh buzzer, dari buzzer diperoleh fungsi dari petunjuk.
Petunjuk terdiri dari bermacam-macam variasi, ada petunjuk visual dan audiovisual serta kekuatan yang berbeda-beda juga. Yang menjadi petunjuk dalam percobaan mereka yaitu sekat dan pengukit. Dimana dengan melompat sekat, tikus tersebut dapat terbebas dari bel listrik yang disertai kejutan listrik. Dan bila mereka menekan pengukit, maka aliran listrik akan terputus.
  
r   Response
Response merupakan suatu perilaku sederhana didalam hubungan manusia. Menurut Dollard- Miller, sebelum respon dihubungkan dengan stimulus, maka respon itu harus muncul terlebih dahulu. Contohnya seorang anak yang sama sekali tidak tahu membaca, maka dia harus belajar membaca agar dia pandai membaca.
Dalam beberapa situasi, respon yang pasti cenderung muncul dibandingkan yang lain, kecenderungan ini disebut initial hierarchy of response. Proses pembelajaran dapat mengubah perilaku individu dan menghasilkan sebuah resultant hierarchy, yang mana lebih efektif dalam mencapai tujuan yang ingin diraih. Contohnya, Dollard dan Miller menyuruh anaknya untuk menemukan tempat permen yang berada ditempat buku dan diantara buku-buku yang bertumpukan.

r   Reinforcement
       Agar proses pembelajaran dapat terjadi, menurut Dollard-Miller reinforcement harus muncul, dan reinforcement adalah penegasan yang terbaik untuk drive reduction. Miller-Dollard mengemukakan bahwa hipotetis drive reduction dan menerangkan mengapa stimulus yang diberikan menghasilkan efek reinforce.

       Kadang-kadang tidak ada respon pada individu membuat situasi menjadi sukses, atau respon merupakan penguat kesuksesan. Misalnya  belajar dilemma.
Extinction
Extinction merupakan hilangnya respon ketika respon tersebut tidak diberi penguat (reinforce). Fungsi dari extinction adalah untuk menghilangkan respon yang gagal sehingga respon yang lain dapat dimunculkan. Dalam percobaan mereka, respon  hurdle-jumping tidak menghilangkan penguat (kejutan) yang diberhentikan.


Generalization
Stimulus generalisasi menyatakan proses dimana kuat responnya menjadi stimuli lain daripada stimulus yang direspon saat pembuatan yang asli. Tingkatan stimulus generalisasi yang direspon akan menghasilkan variasi suatu fungsi dari persamaan stimulus, semakin stimulus memiliki persamaan, semakin sama responnya.
Berdasarkan prinsip yang berhubungan dengan respon generalisasi, stimulus tidak hanya mendatangkan respon yang tipikal, tetapi beberapa respon yang memiliki persamaan. Contohnya, anak yang sangat marah terhadap ayahnya karena dia melarang anaknya untuk melakukan aktifitas sekolahnya, dia takut untuk mengekspresikan kemarahannya, tetapi dia mengekspresikannya dengan membanting pintu.
Puncak dari generalisasi tidak hanya bergantung pada bagaimana stimulus dan respon-respon baru yang sama pada stimulis yang lama, tetapi seberapa banyak proses belajar yang sesungguhnya dalam mengambil peran dan seberapa sering dorongan- dorongan yang mendasari respon.

&       HIGHER MENTAL PROCESS

Menurut Miller, interaksi individu dengan lingkungannya ada dua variasi,yang pertama ialah interaksi yang mengalami efek langsung pada lingkungan dan dituntun oleh isyarat yang terdapat dalam suatu situasi. Contohnya kita akan otomatis menginjak rem ketika melihat seorang anak tiba-tiba berjalan ketengah jalan. Tipe yang kedua mencakup cue-producing responses yang biasanya akan memberi petunjuk pada respon lainnya. Sebagai contoh ketika kita melihat sebuah toko, mengingat sesuatu yang kita butuhkan, berpikir apakah kita memiliki cukup uang, pergi ke toko tersebut.

Dollar dan Miller memberi penekanan pada peranan bahasa dalam motivasi, reward, dan pandangan ke masa depan. Mereka menekankan kapasitas kata-kata untuk membangkitkan “drives” dan untuk menguatkan atau melemahkan. Bahasa juga berfungsi sebagai “time-binding mechanism”:  dimana kita bisa menguatkan perilaku di masa sekarang dengan menjelaskan konsekuensi yang akan muncul pada masa yang akan datang secara lisan.

Penalaran (reasoning) pada hakikatnya merupakan subsitusi cue producing responses dengan overt act yang merupakan tindak langsung (sikap seseorang terhadap suatu masalah) dan merupakan tindakan yang jauh lebih efisien daripada tindak langsung yang bersifat “trial and error”. Penalaran mempersingkat proses dalam menentukan sebuah tindakan dengan memungkinkan kita untuk menguji alternatif tanpa mencoba mereka secara nyata terlebih dahulu sehingga dapat membuang tindakan yang tidak perlu. Contohnya ketika kita meninggalkan rumah untuk mengambil pesana ke suatu tempat, lalu kita teringat bahwa jalan yang biasanya kita lewati sedang dalam perbaikan sehingga kita bisa memilih rute alternatif disamping kita memilih untuk tetap pada jalan biasa dan harus berputar.

&       THE SOCIAL CONTEXT

Kemampuan untuk menempatkan bahasa dan petunjuk-petunjuk yang menghasilkan respon lainnya sangat dipengaruhi oleh konteks sosial. Interaksi anak-anak kebanyakan dengan lingkungan disekitarnya yang menekankan pada bagaimana menghasilkan isyarat-isyarat verbal, atau simbol verbal dalam komunikasi, dan mengerti isyarat yang dihasilkan oleh orang lain. Bahasa adalah produk sosial, dan jika proses bahasa sangat penting maka lingkungan sosial menjadi sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian.
Miller dan Dollard (1941), menekankan saling keterkaitan antara tingkah laku dengan sosiokultural. Miller dan Dollard menyiratkan bahwa prinsip belajar mereka bisa diterapkan dalam berbagai budaya dan mereka juga percaya bahwa seseorang yang memiliki perilaku yang tepat akan memberi pengaruh yang besar pada masyarakat dimana dia berada.

&       CRITICAL TRAINING SITUATIONS
Mereka sependapat dengan para tokoh psikoanalitik, bahwa pengalaman-pengalaman selama 6 tahun pertama dalam kehidupan merupakan faktor penentu yang berperan penting bagi tingkah laku orang dewasa. Hal yang terpenting bagi mereka adalah situasi ketidakberdayaan seorang bayi. Bayi, hanya memiliki kemampuan yang sangat kecil untuk mempengaruhi lingkungan dan mengatasi frustasi yang dialaminya.

PENYEBAB KONFLIK EMOSIONAL PADA SITUASI PERKEMBANGAN
Situasi perkembangan
Konflik yang dipelajari
Hal-hal yang mungkin terjadi
Pemberian makan

Kepuasan akan kebutuhan dasar vs rasa takut, kesendirian dan rasa tak berdaya
-  Kekhawatiran, aphatis
-  Merasa takut jika  sendiri
-  Tidak punya kepekaan sosial
Kebersihan

Kesenangan pada sesuatu yang menyangkut dengan diri kita vs rasa takut, marah dan rasa bersalah

-  Ketakutan akan  kehilangan kasih sayang
-  Marah, menentang, keras kepala
-  Malu, konformitas, merasa tak layak
Perilaku Seksual

Kenikmatan jasmani vs rasa takut dan bersalah

-  Represi pada pikiran dan kebutuhan seksual
-  Masalah dengan masturbasi
-  Homoseksualitas
-  Hubungan dengan lawan jenis jadi terhalang karena adanya masalah “oedipal” atau ketertarikan pada orang yang jauh lebih tua.
Kemarahan - Agresi

Penonjolan diri vs Penolakan, Hukuman dan dissaproval

-   Persaingan antar saudara
-  Tidak mempunyai kesabaran dan pandangan akan masa depan dan tidak mampu mengendalikan diri pada situasi tertekan
-  Berbagai bentuk agresi: gosip, kebohongan, membuat masalah
-  Jika dihambat, orang tersebut akan menjadi tergantung, tidak mampu menonjolkan diri dan mempertahankan diri: prestasi minimal dan tidak mampu berdiri sendiri.



Dollard dan Miller juga memperkenalkan empat situasi yang dapat menimbulkan konflik dan gangguan emosional:
  • Pemberian makan pada masa bayi
  • Latihan mengatur buang air atau kebersihan
  • Latihan tentang peranan pria atau wanita
  • Latihan untuk mengontrol kemarahan dan agresi
Melalui empat situasi diatas, sebenarnya Dollard dan Miller hanya melakukan penegasan kembali rumusan Freud dalam analisis perkembangan. Dan yang akan dibahas adalah situasi pertama yaitu stimulus dorongan kuat yang pertama dikenal bayi adalah rasa lapar.
Menurut Dollard dan Miller, penyesuaian bayi terhadap stimulus ini akan menjadi model terhadap penyesuaian orang dewasa mereduksi dorongan yang lain nantinya. Apabila anak menangis saat lapar, lalu ia diberi makan, maka dalam hal ini anak tahu bahwa ia mulai memanipulasi lingkungannya secara aktif. Dan sebaliknya bila si anak dibiarkan menangis ia akan bereaksi pasif terhadap stimulus yang kuat.
            Dollard dan Miller percaya bahwa situasi pemberian makan sangat mempengaruhi hubungan interpersonal dimasa yang akan datang. Biasanya pemberian makan dengan rasa marah dan sakit, maka anak mungkin belajar untuk menghindari interaksi sosial.
            Namun Harry Harlow meragukan asumsi mereka tentang pentingnya pemberian makan bagi berkembangnya hubungan ibu dan anak, dan mengemukakan bahwa bahwa kontak fisik jauh lebih penting. Bukti yang menunjang pandangan Harlow diperagakan dalam eksperimen dimana bayi kera diasuh dalam keadaan sama sekali terisolasi kecuali hadirnya dua ibu “buatan”. Dimana yang satu terbuat dari kawat dan memegang botol dari mana bayi memperoleh segala makanannya, dan yang lainnya dilapisi dengan kain handuk dengan permukaan dibuat hangat dan menyenangkan tempat kera-kera kecil itu dapat berpegangan erat. Binatang-binatang itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kontak fisik dengan induk pengganti yang dilapisi kain handuk.

&       UNCONSIOUS PROCESS

Teori Dollard dan Miller sejalan dengan perumusan–perumusan psikoanalisa dalam hal pengakuan faktor ketidaksadaran, tetapi teori ini berbeda dengan Freud. Dollard dan Miller membagi faktor-faktor ketidaksadaran kedalam apa yang memang tidak pernah sadar dan 
dan meskipun pernah sadar namun sekarang tidak sadar lagi.

Kategori pertama meliputi dorongan, respon, dan petunjuk yang dipelajari sebelum anak dapat berbicara, itu sebabnya tidak diberi label. Kategori ini juga meliputi sesuatu yang dipelajari secara tidak lisan, seperti keahlian yang berhubungan dengan kinestetik dan motorik. Kategori yang kedua mencakup semua petunjuk dan respon yang pada awalnya sadar, namun lewat represi menjadi hilang dari kesadaran.

Represi adalah suatu proses menghindari pikiran–pikiran tertentu. Proses ini dipelajari dan dimotivasikan dengan cara yang sama dengan respon yang dipelajari lainnya. Represi bisa dimulai dari kecenderungan untuk tidak memikirkan hal-hal yang tertentu sampai pada kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang dianggap menakutkan.      

Kecenderungan akan adanya represi ini sudah ada sejak usia dini. Anak-anak sering dihukum karena mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu atau ketika mereka hanya mengatakan kalau mereka bermaksud untuk mengerjakan sesuatu yang dilarang. Orang tua sering menduga anak-anak yang suka melawan dilihat dari kelakuan mereka. Namun, seorang anak juga belajar untuk berpikir tentang sesuatu yang benar sekalipun tidak benar mengerjakannya.

Menurut Dollard dan Miller, ketidaksadaran sangat penting dan berkaitan dengan label verbal, yang merupakan hal penting dalam proses belajar.

&       A  MODEL OF CONFLICT

Salah satu dari rumusan Dollard dan Miller adalah perilaku konflik. Dollard dan Miller membuat lima asumsi dasar tentang perilaku konflik, yaitu (1) kecenderungan orang untuk mendekati suatu tujuan menjadi kuat ketika semakin dekat dengan tujuan itu (gradient of approach), (2) kecenderungan untuk mencegah stimulus negatif juga menjadi semakin kuat ketika semakin dekat dengan stimulus itu (gradient of reinforcement), (3) perubahan tingkat menjauhi lebih tinggi daripada perubahan tingkat mendekati. Artinya, kecepatan meningkatnya kecenderungan menjauhi akan lebih besar daripada kecepatan meningkatnya kecenderungan mendekati, (4) meningkatnya dorongan yang diasosiasikan dengan mendekat atau menjauh mengakibatkan meningkatnya bobot perubahan tingkat pada umumnya, (5) jika ada dua respon yang bersaing maka yang lebih kuat yang akan muncul.

Ò        Approach-avoidance Conflict
          
  Merupakan pertentangan antara kecenderungan untuk mendekat dan menjauh secara serentak yang ditimbulkan oleh objek atau situasi yang sama. Bila respon mendekatnya lebih kuat daripada respon menjauhnya, maka respon tersebut akan mendekat. Namun bila kedua respon sama kuat, maka seseorang akan kesulitan dalam memilih respon yang tepat.

Ò        Avoidance-avoidance Conflict

            Merupakan tipe konflik dimana seseorang berhadapan dengan dua respon menjauh yang saling bertentangan. Jika salah satu respon lebih kuat dari yang lain untuk mencapai tujuan, maka seseorang akan terus menarik diri dari situasi yang bersaing tersebut, dengan demikian konflik akan teratasi.

Ò        Approach-approach Conflict

            Kompetisi antara dua respon yang saling mendekati bukan merupakan hal yang dilema. Dollard dan Miller mengatakan walaupun seseorang memiliki suatu tujuan yang positif, maka kekuatan dari respon ini pun akan meningkat dan kekuatan saingannya akan menurun. Pada orang yang memiliki dua tujuan yang seimbang, ketika terjadi sesuatu yang mengacaukan keseimbangan ini, maka orang tersebut akan bergerak ke arah salah satu tujuan yang terdekat.


NEURITIC PERSONALITY DEVELOPMENT
            Orientasi psikoanalisa Dollard dan Miller memimpin mereka untuk memberikan pertimbangan kepada perkembangan neurosis dan untuk metode psikoterapi.
Inti dari setiap neurosis adalah masalah ketidaksadaran yang kuat dan hampir selalu ditemukan pada masa kanak-kanak. Anak sering mengembangkan kecemasan atau rasa bersalah yang kuat berkaitan pengungkapan kebutuhan dasarnya, dan berlanjut menjadi konflik sampai ke masa dewasa.

¥      PSIKOTERAPI

            Psikoterapi membuat suatu kondisi dimana kebiasaan yang neurotis mulai ditinggalkan kemudian kebiasaan yang nonneurotis mulai dipelajari. Di psikoterapi ini, terapis bertindak sebagai seorang guru dan pasien bertindak sebagai murid. Meskipun terdapat beberapa istilah yang berbeda, Dollard dan Miller mengusulkan prosedur dan kondisi pengobatan yang konvensional yakni terapi ini bersifat simpatik dan bebas; sehingga mendorong pasien untuk berasosiasi bebas dan mengekspresikan perasaannya. Kemudian terapis mencoba untuk membantu pasien mengerti perasaannya dan bagaimana mereka mengembangkannya. Dalam terapi ini juga dipelajari teknik untuk menghindari segala sesuatu yang dapat membangkitkan emosi mereka sehingga kecemasan dan rasa bersalah dapat dihilangkan. Selain itu, rasa takut menjadi berkurang dan represi tidak terbentuk. Kemudian secara berangsur-angsur, rasa takut pun akan padam meskipun tidak ada penguatan.

            Berikut merupakan contoh yang diambil dari cerita Ny. A:
Ny. A menghindari kecemasan dengan menghitung denyut jantungnya. Kemudian dia melakukan psikoterapi. Walaupun orang yang menerapi Ny. A secara konsisten mendorongnya untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya, dalam waktu yang lama dia menghindari topik yang berhubungan dengan pokok masalahnya. Setelah menceritakan luka masa kecilnya, dan tanpa dikomentari oleh terapisnya, Ny. A dapat menceritakan pemerkosaan terhadap dirinya oleh saudara angkatnya. Ketika terapis membantu Ny. A untuk membedakan antara ketakutan masa kecilnya dengan keadaan yang ada sekarang, Ny. A mulai melepaskan sikap ketergantungannya dan mengambil tanggung jawab untuk ide-idenya sendiri. Dengan membantu Ny. A dalam melabelkan pikiran dan perasaan seksualnya dan tidak menghukumnya. terapis membantu Ny. A memperbaiki hubungan seksualnya dengan suaminya. Setelah hubungannya diperbaiki, ketakutan Ny. A berkurang, dan kemudian dia dapat pergi keluar sendirian.

KARAKTERISTIK PENELITIAN
            Miller dan Dollard beserta dengan murid-muridnya telah mengadakan sejumlah penelitian empiris yang penting untuk menguji asal dari teori mereka. Untuk menjelaskan penelitian mereka, kita akan menguji dua jenis investigasi. Pertama, menyelidiki konsep psikoanalisa tentang displacement, yang berhubungan dengan gejala dari generalisasi stimulus. Kedua, yang mewakili fokus perhatian dari Miller, menyelidiki dasar psikologis dari pembelajaran.

¥      STUDIES OF DISPLACEMENT
             Displacement adalah pengalihan gerakan sehingga sesuatu dicegah-baik dengan kejadian eksternal atau dengan mengecam diri-dari pengekspresian. Displacement dapat dijadikan sebagai pertahanan: seseorang mungkin takut untuk mengekspresikan rasa marah, menekan emosi, dan kemudian mengekspresikannya dalam situasi yang berbeda. Sesuatu yang dianggap sesuai dengan bentuk dari displacement, sering disebut sublimasi-energi yang tidak dapat dikeluarkan kemudian diteruskan kembali. Seorang pria tanpa hubungan seksual atau yang memilih untuk memindahkan energi seksualnya pada usaha mencapai prestasi, berkonsentrasi pada lukisannya atau memperbesar bisnis elektroniknya. Disini energi untuk suatu usaha dipindahkan pada usaha lain; tipe pertama dari displacement, energi dari usaha yang sama diteruskan pada objek yang berbeda.
  
¥      AUTONOMIC NERVOUS SISTEM LEARNING

           Beberapa penelitian Miller terhadap mekanisme psikologis yang termasuk dalam pembelajaran gejala tingkah laku. Miller dan Dollard melihat gejala neurotis Ny. A sebagai respon dari belajar, atau kebiasaan, yang melalui psikoterapi, dapat dihilangkan. Ada beberapa gejala yang lain, umumnya pada tingkah laku yang neurotis; misalnya, kecepatan denyut jantung sering dikaitkan dengan tingkat kecemasan. Orang tidak perlu belajar untuk membuat denyut jantung meningkat atau menurun, fungsi ini diatur oleh autonomic nervous system (ANS). Selama beberapa tahun, diyakini bahwa respons otonom tidak dapat dikendalikan pada kontrol yang tiba-tiba, seperti respons otot pada gerakan tangan dan kaki, jadi tidak dapat menjadi syarat penolong.

Selama beberapa waktu, Miller dan Dollard pandangan tradisional tentang psikofisiologis, atau psikosomatis; jika mereka tidak dapat dipelajari, mereka tidak dapat dihilangkan. Lalu pada suatu eksperimen pada hewan tahun 1960 an, Miller menentang pandangan ini. Dalam suatu eksperimen, Miller dan banuazizi (1968) memonitor dua jenis respon internal pada tikus: denyut jantung dan kontraksi usus. Untuk meyakinkan bahwa respons tikus dimediasi oleh ANS (dan bukan sistem otot), penyelidik menyuntikkan obat pada tikus, yang membuat kelumpuhan otot dengan mencegah impuls saraf motorik dari kontraksi normal otot. Kemudian tikus-tikus tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan setiap saat kontraksi usus tiba-tiba, baik diatas maupun dibawah amplitudo. Tikus-tikus menunjukkan peningkatan ataupun penurunan kontraksi secara signifikan selama periode latihan, tapi tidak menunjukkan perubahan sistematis pada denyut jantung, yang juga dimonitor. Kelompok yang kedua, diberikan perubahan pada denyut jantung, menunjukkan secara spontan cepat lambatnya denyut pada arah yang tepat, tetapi tidak menunjukkan perubahan pada kontraksi usus. Faktanya bahwa hal yang mempengaruhi kedua kelompok hewan tersebut dikhususkan pada respon yang diberikan sehingga respon merupakan syarat penolong.

            Penemuan ini dan yang lainnya menimbulkan kemungkinan yang menarik. Pertama,  Miller (1969) mengatakan bahwa mungkin saja jika kita mempelajari gejala psikofisiologis hanya setelah kita mempelajari jenis gejala yang lain. Dan jika memang demikian, kemungkinan teknik syarat penolong dapat digunakan untuk mengurangi intensitas gejala seperti tekanan darah tinggi, apakah gejala disebabkan oleh fisiologis atau faktor fisiologis.

            Penelitian pada biofeedback oleh peneliti lainnya telah mengindikasikan bahwa beberapa orang faktanya dapat belajar untuk mengontrol denyut jantungnya dan proses otonom lainnya. Penelitian telah menunjukkan dengan pasti bahwa prosedur dapat digunakan dengan sukses oleh semua orang. Dan itu tidak menunjukkan keefektifan dalam prosedur ini pada perlakuan tingkatan penyakit yang sebenarnya. Miller mempunyai kesulitan dalam mereplikasikan penemuan awalnya (Miller dan Dworkin, 1974), dan terlihat dengan jelas bahwa diperlukan pekerjaan yang lebih banyak pada area yang rumit ini.

KESIMPULAN
? Menurut Dollard-Miller, aspek dari kepribadian yang relatif stabil adalah kebiasaan (habit) dan dorongan sekunder. Sedangkan dorongan-dorongan primer, yang dianggap kurang penting dalam tingkah laku manusia (dibandingkan dengan dorongan-dorongan sekunder dan jenis-jenis kebiasaan lainnya), juga menentukan sifat-sifat yang dimiliki oleh semua individu sebagai anggota spesies yang sama dan bukannya menentukan keunikan mereka
? Kepribadian seseorang telah dimiliki sejak masa bayi dan dilanjutkan dengan proses belajarnya dalam memperoleh motif-motif dan perkembangan proses mental yang lebih tinggi
? Ada empat unsur konseptual yang penting dalam hal belajar, yang dikemukakan oleh Dollard dan Miller, yaitu: drive, cues, response, dan reinforcement
? Dollard dan Miller membagi faktor-faktor ketidaksadaran kedalam apa yang memang tidak pernah sadar dan dan meskipun pernah sadar namun sekarang tidak sadar lagi. Ini dibagi atas dua kategori, yaitu (1) meliputi dorongan, respon, dan petunjuk yang dipelajari sebelum anak dapat berbicara, itu sebabnya tidak diberi label, (2) mencakup semua petunjuk dan respon yang pada awalnya sadar, namun lewat represi menjadi hilang dari kesadaran.
? Ada lima asumsi dasar tentang perilaku konflik, yaitu
(1) kecenderungan untuk mendekati suatu tujuan menjadi kuat ketika  semakin dekat dengan tujuan itu (gradient of approach)
(2) kecenderungan untuk mencegah stimulus negatif juga menjadi semakin kuat ketika semakin dekat dengan stimulus itu (gradient of reinforcement)
(3) perubahan tingkat menjauhi lebih tinggi daripada perubahan tingkat mendekati
(4) meningkatnya dorongan yang diasosiasikan dengan mendekat atau menjauh mengakibatkan meningkatnya bobot perubahan tingkat pada umumnya
(5) jika ada dua respon yang bersaing, maka yang lebih kuat yang akan muncul.
?  Approach-avoidance Conflict merupakan pertentangan antara kecenderungan untuk mendekat dan menjauh secara serentak yang ditimbulkan oleh objek atau situasi yang sama.
Avoidance-avoidance Conflict merupakan tipe konflik dimana seseorang berhadapan dengan dua respon menjauh yang saling bertentangan.
Approach-approach Conflict merupakan kompetisi antara dua respon yang saling mendekati bukan merupakan hal yang dilemma
? Miller (1969), mengatakan bahwa mungkin saja jika kita mempelajari gejala psikofisiologis hanya setelah kita mempelajari jenis gejala yang lain. Jika memang demikian, kemungkinan teknik syarat penolong dapat digunakan untuk mengurangi intensitas gejala seperti tekanan darah tinggi, apakah itu gejala yang disebabkan oleh fisiologis atau faktor fisiologis.


DAFTAR PUSTAKA

Lindzey, Gardner, dan Calvin S. Hall, 1967. Theories of Personality. United States of America (USA).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar