Rabu, 08 Januari 2014

Perkembangan Kognitif Dewasa Awal


                                                                     BAB I
         PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang Masalah
Perkembangan merupakan langkah awal ciri makhluk hidup mencapai kesetaraan normal dengan sesamanya. Terutama pada manusia,sebagai makhluk hidup yang kompleks, perkembangan secara fisik dan mental merupakan satu indikator untuk menilai taraf kualitas normalnya. Hal ini dikarena segala aspek hidup manusia baik secara kognitif, emosional, fisik, moral dan lain sebagainya merupakan hal yang dasar digunakan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Perkembangan kognitif dan moral adalah suatu perkembangan yang tidak dapat dilihat secara langsung dan tidak mutlak bersifat empiris. Perkembangan kognitif dan moral yang akan membentuk kepribadian seseorang juga akan berkontribusi besar dalam penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai manusia yang berada pada tahap dewasa dini, yakni berumur 20 – 40 tahun, manusia akan mengalami banyak perkembangan seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang didapat, pengalaman terdahulu, lingkungan, bahkan kecenderungan hereditas. Hal ini lah yang akan membedakan satu manusia dengan manusia yang lain.
Pada tahap dewasa dini ada beberapa hal yang pada umumnya berkembang secara general pada manusia dan hal ini lah yang akan menjadi patokan untuk melihat sejauh apa manusia yang berada pada tahap dewasa dini sudah berkembang secara moral dan kognitif.
Dengan berkembangnya teori, para teoritikus dan peneliti telah mempelajari kognisi dewasa dari berbagai persfektif. Beberapa peneliti menyatakan bahwa orang dewasa berpikir dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja seperti yang dilakukan Piaget. Peneliti yang lain seperti Schaie mengidentifikasi kognitif orang dewasa dalam kapasitas tertentu yang timbul dalam kehidupannya atau cara tertentu yang orang dewasa lakukan untuk mencapai tingkatan kehidupan. Sedangakan Robert Sternberg fokus kepada tipe atau aspek kecerdasan, yang diabaikan oleh tes psikometris, yang cenderung mengemukakan pada masa dewasa.

1.2.        Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan perkembangan kognitf?
2.    Bagaimana perkembangan kognitif yang terjadi pada tahap dewasa dini?
3.    Apa yang terjadi terhadap pemikiran orang dewasa dini dan inteligensinya?
4.    Bagaimana perkembangan moral berkembang?
5.    Bagaimana seorang dewasa dini bertransisi ke jenjang pendidikan dan pekerjaan yang lebih tinggi?
6.    Bagaimana dampak pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi terhadap perkembangan kognitif afektif?
7.    Bagaimana seorang dewasa dini bertransisi di tempat kerja?


1.3.        Tujuan
1.   Agar dapat mengerti apa yang dimaksud dengan dewasa dini.
2.   Agar dapat mengerti bagaimana kognitif pada tahap dewasad ini berkembang.
3.   Agar dapat mengetahui bagaimana kognitif dan pengalaman berhubungan dengan inteligensi untuk memecahkan masalah sehari-hari.
4.   Agar dapat mengetahui esensi dan perkembangan moral pada tahap dewasa dini.
5.   Agar mengetahui bagaimana seorang dewasa dini mampu bertransisi di tempat kerja dan perkuliahan.












       BAB II
                                               PEMBAHASAN

2.1 .PERKEMBANGAN KOGNITIF

2.1.1. Beyond Piaget : New Ways of Thinking in Adulthood
 Beberapa riset dan karya teoritis menyatakan perubahan dalam kognisi jauh lebih luas daripada hanya sekedar manipulasi intelektual abstrak yang digambarkan Piaget. Penelitian lain setuju dengan postformal thought, dimana dikombinasikan antara logika, emosi dan pengalaman nyata dalam menyelesaikan lebih dari satu masalah. Sehingga penalaran formal (Formal Reasoning) bukan hanya satu-satunya, dan bahkan mungkin bukan yang paling penting, dalam kemampuan berpikir dewasa.
Reflective thinking atau berpikir reflektif adalah berpikir logis yang muncul pada masa dewasa melibatkan evaluasi terhadap informasi dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang mendukung (usia 20 dan 25 tahun).
Postformal Thought atau pemikiran pascaformal adalah berpikir matang yang bergantung pada pengalaman subjektif, intuisi serta logika yang berguna dalam menghadapi ambiguitas, ketidakpastian, ketidakkonsistenan dan ketidaksempurnaan, sebagaimana yang dilakukan Arthur Ashe ketika berhadapan dengan batasan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuannya di bidang tennis.
Pemikiran postformal bersifat relatif. Pemikiran ini melihat bayangan abu-abu, sebagai respon terhadap peristiwa dan interaksi serta membuka cara pandang berbeda terhadap sesuatu dan menantang pandangan sederhana terpolarisasi terhadap dunia.
      Jan Sinnott (1984,1998) salah seorang periset terkenal, mengemukakan beberapa kriteria pemikiran postformal. Sebagai berikut :
1.    Shifting gears (fleksibel) à kemampuan untuk maju dan mundur antara pemikiran abstrak dengan pertimbangan praktis dan nyata (“mungkin diatas kerta ini bekerja, tetapi tidak di dunia nyata”)
2.    Problem definition à kemampuan untuk mengidentifikasikan suatu masalah dengan mengkategorikannya dan mendefenisikan cangkupannya. (“ini merupakan masalah etis, bukan legal, sehingga presiden secara hokum tidak akan membantu masalah ini”)
3.    Process-product shift à kemampuan melihat bahwa suatu masalah dapat di selesaikan baik dengan pendekatan umum, atau solusi konkret terhadap masalah khusus (“saya pernah menemui masalah seperti ini  sebelumnya, an beginilah saya menyelesaikannya” atau “dalam hal ini, solusi terbaik adalah….”)
4.    Pragmatism à kemampuan untuk memilih yang terbaik dari beberapa kemungkinan solusi dan menyadari kriteria pemilihan tersebut (“jika anda menginginkan solusi yang mudah gunakan ini, jika anda ingin solusi yang cepat gunakan itu”)
5.    Multiple solution à menyadari bahwa banyak masalah memiliki lebih dari satu alasan, dimana seseorang tersebut mungkin memiliki tujuan yang berbeda pula, sehingga banyak metode yang digunakan untuk lebih dari satu solusi (“mari kita coba dengan caramu, jika tidak berhasil, kita dapat menggunakan caraku”)
6.    Awareness of paradox à menyadari bahwa masalah atau solusi mengandung konflik inheren (“melakukan hal ini akan memberikan apa yang diinginkannya,tetapi akhirnya hanya akan membuatnya bersedih”)
7.    Self-referential thought à kesadaran seseorang bahwa dia harus memutuskan logika mana yang akan digunakan

Salah satu studi (Labouvie-Vief, Adams, Hakim-Larson, Hayden,& DeVoe, 1987) meminta orang-orang dari praremaja sampai usia tengah baya memerhatikan masalah berikut ini :
John adalah seorang pemabuk parah, terutama ketika pesta. Mary, istrinya, memperingatkannya bahwa apabila John mabuk lagi, maka ia akan membawa anak-anak meninggalkannya. John kembali mabuk sepulang pesta kantor. Apakah Mary akan meninggalkannya?
Praremaja dan remaja awal akan menjawab “ya”. Remaja yang lebih dewasa dan orang dewasa membawa dimensi manusia ke dalam masalah tersebut : mereka menyadari Mary mungkin tidak akan melakukan apa yang akan diancamkannya. Sebagian besar pemikir dewasa menyadari ada sejumlah cara menginterpretasikan masalah yang sama, dan cara orang memandang pertanyaan seperti diatas seringkali tergantung kepada pengalaman hidupnya. Kemampuan untuk membayangkan beberapa jalan keluar hanya sebagian yang terkait dengan usia. Orang dewasa berusia 40-an tidak selalu berpikir lebih matang ketimbang orang dewasa berusia 20 tahun.
            Namun, pemikiran postformal terjadi ketika emosi dilibatkan didalamnya. Dalam studi kasus tersebut, para partisipan diminta untuk menilai penyebab jalan keluar terhadap serangkaian situasi hipotesis, seperti konflik perkawinan. Remaja dan orang dewasa awal cenderung menyalahkan individu, sedangkan orang dewasa pertengahan lebih suka menunjuk perilaku yang memainkan peran antara orang dan lingkungan.
2.1.2.   Schaie : A Life-Span Model of Cognitive Development
Peneliti yang mengajukan model rentang kehidupan perkembangan kognitif adalah K. Warner Schaie (1977-1978; Schaie & Willis, 2000) ditinjau dari perkembangan penggunaan intelek dengan kontek sosial. Ada tujuh tahapan tersebut yaitu :
1.    Acquisitive stage (tahap pencarian) à tahap pertama dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana anak dan remaja belajar informasi dan keterampilan bertujuan, sebagian besar untuk diri mereka sendiri atau sebagai persiapan berpartisipasi dalam masyarakat
Contoh : Arthur Ashe, sebagai seorang anak laki-laki. Ashe mencapai pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang petenis hebat
2.    Achieving stage (tahap pencapaian) à tahap kedua dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana pemuda menggunakan pengetahuan untuk mendapatkan kompetensi dan independensi
Contoh : dengan kemampuan dan pengetahuannya di bidang tennis, ia menang dalam beberapa turnamen
3.    Responsible stage (tahap pertanggungjawaban) à tahap ketiga dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang-orang paruh baya menaruh perhatian pada target jangka panjang dan masalah praktis berkaitan dengan tanggung jawab mereka terhadap orang lain
Contoh : Ashe menjadi kapten dalam U.S. Davis Cup team, sehingga memiliki tanggung jawab dalam perkumpulan pemain tennis
4.    Executive stage (tahap eksekutif) à tahap keempat dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang-orang paruh baya bertanggung jawab terhadap sistem sosial dan dengan relasi kompleks di beberapa level
Contoh : selain kegiatan Ashe di bidang tennis, ia juga berperan sebagai ketua Asosiasi Hati Nasional, sebagai direktur dalam suatu perusahaan, dan juga beberapa program dalam tennis
5.    Reorganizational stage (tahap reorganisasi) à tahap kelima dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang dewasa yang memasuki masa pensiun mereorganisir kehidupan mereka seputar aktivitas bukan kerja
Contoh : menjadi ketua AIDS, bermain golf, penulis, kuliah, dan berakting sebagai seorang pemerhati olahraga
6.    Reintegrative stage (tahap reintegratif) à tahap keenam dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang dewasa yang lebih tua memilih memfokuskan energinya yang terbatas pada tugas yang bermakna bagi mereka.
Contoh : akibat dari penakit yang Ashe derita, ia lebih memfokuskan diri unutk “go public”
7.    Legacy – creating stage (tahap penciptaan warisan) à tahap terakhir dari tahapan kognitif Schaie, dimana orang yang sudah tua bersiap menghadapi kematian dengan merekam kisah hidup mereka, membagikan harta
Contoh : perintis sebuah perusahaan pemerintah yang bergerak untuk penderita AIDS, serta membagi pengalamannya sebagai seorang penulis keturunan America-Afrika.
Jika orang dewasa menggunakan tahapan ini, kemudian test psikometri, dimana memakai jenis pengukuran inteligen yang sama untuk seluruh periode kehidupan, mungkin tidak sesuai dengan mereka. Sehingga kita memerlukan pengukuran yang tepat untuk menunjukkan tantang kehidupan yang sebenarnya. Teori Robert sternberg mengambil bagian dalam petunjuk ini.

2.1.3.   STERNBERG : INSIGHT AND KNOW-HOW
            Menurut Teori yang dikemukakan oleh Sternberg (Papalia,dkk ; 2007) dalam diri manusia, terdapat experiential element (kecerdasan menemukan ide kreatif) dan contextual element (kecerdasan penyesuaian diri terhadap masalah praktikal). Kedua aspek tersebut adalah aspek yang tidak dicakup dalam tes psikometri yang mengukur kecerdasan manusia. Banyak kasus yang ditemukan dalam fenomena perkembangan pada masa dewasa dini yang mengindikasikan bahwa perkembangan kognitif pada masa dewasa dini bukanlah hanya sebatas IQ yang dalam alat tes. Dan juga IQ dan skor-skor tinggi yang dicapai secara akademis belum pasti menjadi penentu bahwa seseorang tersebut akan menghasilkan performa kerja yang baik ketika sudah bekerja.
            Hal ini dapat dilihat pada kasus Alix, Barbara dan Courtney yang telah menyelesaikan program sarjana dari Universitas Yale (Papalia,dkk ; 2007). Disebutkan bahwa selama masa perkuliahan, Alix merupakan siswa yang cukup diperhitungkan prestasi akademisnya dan berskor tinggi dalam Ujian Akhir Sarjana dan mendapat rekomendasi pekerjaan yang banyak. Sedangkan Barbara hanya mendapat nilai rata-rata bahkan meraih skor rendah dalam Ujian Akhir Sarjanan namun yang terjadi ialah ia mendapat begitu banyak pujian dan rekomendasi atas penelitian dan ide kreatifnya. Courtney juga memperoleh skor-skor yang lumayan bagus walaupun bukan yang tertinggi.
            Ternyata ketika Alix, Barbara dan Courtney sudah mulai mengecap dunia pekerjaan, hal yang terjadi adalah kebalikan dari performa inteligensi yang diraih secara akademis. Barbara mendapat rekomendasi yang sangat baik dan diakui integritasnya atas kreatifitasnya. Courtney juga merupakan salah seorang yang paling cepat mendapat perkejaan walaupun ia tidak mencapai peringkat tertinggi. Sedangkan Alix ternyata hanya baik dalam nilai akademis namum tidak dalam pekerjaannya.
            Hal ini lah yang menjadi contoh dalam experiential element (kreatifitas) dan contextual element (kecerdasaan praktikal). Ketika seseorang memasuki masa dewasa dini,  ia akan dinilai secara alami yaitu bagaimana dia menemukan solusi secara praktikal dan bagaimana ia mencapai tujuan dengan hal yang berbeda (kreatifitas). Dalam masa ini, pemikiran yang sempit seperti pemikiran pada masa sekolah akan mengalami perubahan yang drastis. Penilaian bukan lagi dari penilaian akademis, melainkan bagaimana seseorang individu itu memecahkan masalah yang ada dengan cepat. Dan hal itu, terdapat dalam kecerdasaan yang disebutkan dalam teori Sternberg.
AGE-RELATED CHANGES IN INTELLIGENCE
            Kemampuan memecahkan masalah dan memproduksi pemikiran yang kreatif juga dipengaruhi oleh faktor usia. Menurut Sterberg, Wagner, Williams & Horvath (Papalia,dkk ; 2007) kecerdasaan tersebut akan stabil sampai pada masa midlife dan setelah itu akan mengalami penurunan. Kemampuan praktikal juga dipengaruhi oleh pengalaman seseorang dalam menghadapi masalah dalam hidup. Maka semakin seseorang tersebut naik ke masa lebih tinggi, maka diduga orang tesebut semakin kapabel dalam menemukan solusi dalam masalah yang praktikal didalam hidup. Keceradasaan praktikal merupakan prediktor terbaik dalam mengukur kesehatan fisik dan mental.




TACIT KNOWLEDGE
            Taccit knowledge adalah kemampuan yang ada dalam diri seseorang secara inplisit dan tidak secara formal diajarkan atau dibukakan secara langsung. Taccit knowledge terdiri dalari self-management (kemampuan untuk motivasi dan mengorganisir waktu dan energi) , management of tasks (kemampuan untuk mengetahui bagaimana mengejakan suatu tugas) , management of others (kemampuan untuk memuji dan mengkritik sesuatu). Taccit knowledge sekilas terlihat seperti bertolak belakang dengan IQ. Hal ini dikarenakan bahwa taccit knowledge seakan keluar dengan sendiri dari dalam diri orang yang mengalaminya.
            Contohnya adalah perawat amatir yang menolong orang yang terluka ditengah jalan dengan ras betul-betul ingin menolong dengan perawat yang sudah berpengalaman merasa biasa-biasa saja. Hal perawatan terhadap orang yang terluka ini tidak jauh berda. Perawat amatir dan berpengalaman tersebut tidak jauh beda yaitu sama-sama mengobati. Yang menjadi pembeda adalah ketika perawat amatir tersebut mampu menggunakan perasaannya and intuisinya dalam menentukan bagaimana harus bertindak dan kemampuan yang telah dipelajari, yang  dipadu dengan cara yang interaktif.

2.1.4.   EMOTIONAL INTELLIGENCE
            Emotional inteligence adalah kercedasan seseorang untuk mengerti dan mengatur emosi yang merupakan komponen yang sangat penting dalam kecerdasaan berperilaku. Emotional intelligece merupaka hal yang berbeda dengan IQ.Kecerdasaan ini adalah kecerdasaan yang menjelaskan bagaimana seseorang merasa, mengelola perasan, berempati, optimis, memiliki motivasi, dan berkompetensi dalam sosial. Menutu Daniel Goleman, kesuksesann yang diraih manusia kebanyakan bukan karena tingginya IQ melainkan kecerdasan emosional.
            Dalam masa dewasa dini, yang juga merupakan masa seseorang mulai beradaptasi dengan dunia kerja, memilih pasangan, dan menjadi orang tua, kecerdasaan emosional memegang peraasaan yang sangat krusial. Dalm penelitian Goleman, didapatkan data bahwa 500 koorporasi yang sukses berskor tinggi dalam hal kecerdasaan emosional. Kecerdasaan emosional (emotional intelligence) terlihat memberi kontribusi yang sangat banyak kepada performa afektif pada perkerjaan. Dengan hal ini, dapat dilihat juga bahwa kecerdasaan emosi berkaitan dengan tacit intelligence.
            Namun tidak semua hal yang dikontrol dengan kecerdaasaan emosi itu baik. Karena emosi hanyalah bagian dari traits. Contoh rasa marah dapat membangun perilaku ke arah yang positif dan juga negatif. Maka semua pengelolaan emosi yang terjadi pada masa dewasa dini juga menjadi indikator seseorang akan tetap akan berintegritas atau tidak Semua berpusat pada kematangan psikologi dalam mengelola emosi tersebut.

2.2.Perkembangan Moral
Dewasa awal (20-40tahun) adalah masa peralihan dari masa remaja. Menurut tahap penalaran moral Kohlberg, dewasa awal terletak pada level III yaitu moralitas post-konvensional. Orang-orang pada level ini menyadari konflik antara standar moral dan membuat keputusan sediri berdasarkan prinsip hak, kesetaraan, dan keadilan. Kesadaran kognitif terhadap prinsip moral yang berkembang pada masa remaja biasanya baru dilaksanakan pada masa dewasa awal ini. Dua pengalaman yang memacu perkembangan moral pada masa dewasa awal adalah yang pertama, menghadapi nilai yang bertentangan dengan nilai yang sudah dianut dirumah, contohnya dalam menghadapi perbedaan antara peraturan yang berlaku diasrama dengan yang ada dirumah. Yang kedua, menghadapi pengalaman dalam bertanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain, contohnya dalam berumah tangga.
Pengalaman menjadi pembelajaran bagi oranga dewasa untuk mengevaluasi kembali hal yang benar dan salah. Sebagian orang dewasa menjadikan pengalaman personal, pengalaman yang pernah dialami, sebagai alasan jawaban mereka terhadap dilema moral. Contohnya, saya pernah mengalami bagaimana takutnya mengedarai mobil dari les mengemudi dijalan raya ketika masih belajar. Karena takut saya pelan-pelan membawanya sehingga orang yang dibelakang mobil saya terus meng-klakson. Hal ini membuat saya semakin takut dan cemas. Sekarang, ketika didepan saya ada mobil dari les mengemudi yang menandakan ada orang yang sedang belajar, saya tidak akan meng-klaksonnya karena saya tau dia pasti akan semakin takut dan cemas. Pengalaman seperti sangat diwarnai oleh emosi, memicu pemikiran ulang dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh diskusi impersonal, dan pengalaman ini lebih bisa membuat orang melihat dari sudut pandang orang lain.
Tahapan kognitif dalam penilaian moral itu bukanlah menjadi patokan yang utama. Seseorang yang pemikirannya masih egosentrisme berkencederungan lebih kecil membuat keputusan moral. Seseorang dengan pemikiran yang abstrak akan mencapai level tertinggi perkembangan moralnya dengan menyatukan pegalaman da kognisinya. Pengalaman akan menyiapkan orang dewasa dalam perubahan moral.
Kultur dan Perkembangan Moral. Kultur merupakan hal yang sangat berpegaruh dalam perkembagan moral individu yang berada ditempat dimana kultur itu ada.
Gender dan Perkembangan Moral. Studi Kohlberg asalnya dilakukan pada anak laki-laki dan pria sehingga Carol Gilligan berpendapat bahwa sistem Kohlberg memberikan tempat yang lebih tinggi kepada nilai “maskulin” keadilan ketimbang nilai “feminin” perasaan kasih sayang, tanggung jawab, dan perhatian, dan Ia juga berpendapat bahwa inti dilema moral wanita adalah konflik antara kebutuhannya sendiri dengan kebutuhan orang lain. Gilligan berkesimpulan wanita lebih sedikit berpikir tentang keadilan abstrak dan kejujuran dibandingkan yang dilakukan oleh pria dan lebih banyak memikirkan tanggung jawab mereka terhadap orang tertentu.



Level perkembangan moral Gilliga pada wanita
Tahap
Deskripsi
Level 1 : Orientasi pada kebertahanan hidup individual
Wanita berkonsentrasi pada dirinya sendiri--apa yang praktis dan yang terbaik untuk dirinya

Transisi 1 : Dari egoisme kepada tanggung jawab
Wanita menyadari hubungannya dengan orang lain dan memikirkan apa pilihan bertanggung jawab yang akan diambil dalam kerangka hubungannya dengan orang lain (termasuk janin yang dikandungnya) sekaligus dengan dirinya sendiri

Level 2 : Kebaikan adalah pengorbanan diri
Kebijakan kuno feminin menuntut pengorbanan keinginan wanita itu sendiri demi keinginan orang lain—dan yang akan dipikirkan orang lain terhadap dirinya. Dia menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap tindakan orang lain, dan pada saat yang sama menanggung tanggung jawab orang lain terhadap pilihannya. Dia berada dalam posisi bergantung kepada orang lain, salah satu sebabnya adalah karena usaha tidak langsungnya menampakkan kontrol, sering berubah menjadi manipulasi dan terkadang mengalami perasaan bersalah

Transisi 2 : Dari kebaikan pada kebenaran
Wanita menilai keputusannya tidak berdasarkan bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap dirinya tetapi berdasarkan keinginannya dan konsekuensi dari tindakannya. Dia mengembangka penilaian baru yang mempertimbangkan keinginannya sendiri beserta keinginan yang lain. dia ingin menjadi baik dengan bertanggung jawab kepada orang lain, tapi juga ingin mejadi jujur denga bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Survival return  merupakan perhatian utamanya

Level 3 : Moralitas dan kekerasan
Dengan menjadikan tindakan tidak menyakiti orang lain (termasuk dirinya sendiri) menjadi prinsip yang mengatur semua penilaian moral dan tindakan, seorang wanita membangun ekualitas moral antara dirinya dan orang lain dan kemudian menjadi mampu memperkirakan tanggung jawab pilihan dalam sebuah dilema moral



Riset lain tidak menemukan perbedaan gender yang signifikan pada moral. Satu analisis membandingkan 66 studi menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam respon pria maupun wanita. Dalam beberapa studi dimana pria mendapatkan nilai sedikit lebih tinggi, karena biasanya pria lebih berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang lebih baik dibandigkan wanita. Berbeda dengan analisis 113 studi. Walaupun para wanita lebih cenderung berpikir dalam kerangka perhatian, dan pria lebih pada keadilan, perbedaan ini sangat kecil.

2.3.Pendidikan dan Pekerjaan
Tidak seperti generasi-generasi muda sebelumnya, yang biasanya dapat dengan mudah bergerak dari sekolah ke bekerja ke kemandirian finansial, banyak orang yang baru menginjak dewasa kini tidak memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang mereka lakukan 10 tahun mendatang. Beberapa dari mereka, silih berganti antara kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi dan bekerja; beberapa menjalani keduanya secara bersamaan. Kebanyakan dari mereka yang tidak mendaftar perguruan tinggi atau tidak menyelesaikannya, berhasil mendapatkan pekerjaan, tetapi banyak juga yang kembali mengecap pendidikannya. Orang yang baru menginjak dewasa, 13% dari populasi 16-24 tahun pada tahun 2003 lebih besar kemungkinannya menjadi miskin daripada yang lain dalam kelompok usia tersebut.
            Dalam suatu penelitian longitudinal secara nasional terhadap 5464 orang dewasa awal, sebanyak 77% laki-laki dan 82% perempuan telah menyelesaikan pendidikan mereka pada usia 22 tahun, dan 15% laki-laki dan 22% perempuan melanjutkan kembali pendidikan mereka. Di akhir usia 20-an, sebanyak 75% laki-laki dan perempuan telah bekerja penuh waktu, tetapi 15% kembali ke rumah dimana mereka menghabiskan masa kecilnya sebelum berusia 35 tahun.
            Pilihan pendidikan dan kejuruan setelah sekolah menengah atas dapat memberikan kesempatan untuk pertumbuhan kognitif. Pemaparan kepada lingkungan pendidikan dan pekerjaan baru merupakan kesempatan untuk menajamkan kemampuan, mempertanyakan asumsi yang telah lama dianut, dan menemukan cara baru memandang dunia. Bagi mahasiswa usia nontradisional (usia 25 tahun ke atas) , perkuliahan dan tempat kerja dapat menghidupkan kembali keingintahuan intelektual, meningkatkan peluang pekerjaan, dan meningkatkan keterampilan kerja.
2.3.1. Transisi Perguruan Tinggi
            Perguruan tinggi merupakan jalur penting menuju kedewasaan, meskipun merupakan salah satu jalur dan baru belakangan ini menjadi pilihan yang paling umum. Antara tahun 1972-2001, sejumlah proporsi lulusan sekolah menengah atas di AS yang melanjutkan ke perguruan tinggi bertambah dari 49% menjadi 64%. Mayoritas mahasiswa S1 mendaftar ke institusi yang memberikan gelar dengan lama studi dua hingga empat tahun, tetapi proporsi yang terus bertambah memilih menjalani program perguruan tinggi paruh waktu atau mengikuti community college yang berorientasi kejuruan dengan lama studi dua tahun.
            Pendaftaran perguruan tinggi di AS sedang pada rekor tertingginya yaitu 38% dari semua populasi 18 hingga 24 tahun pada tahun 2003, yang sebagian besar berkat pesatnya pertumbuhan angka mahasiswa perempuan. Pada tahun 1970, perempuan lebih kecil kemungkinannya daripada laki-laki untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan juga lebih kecil kemungkinan menyelesaikan studinya. Kini, walaupun individu muda yang melanjutkan studi lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, partisipasi perempuan telah mengalahkan laki-laki., sehingga saat ini, perempuan mencakup 56% dari mahasiswa S1. Perempuan juga memiliki angka  pendaftaran lebih tinggi di Kanada, Prancis, Italia, Jepang, Rusia, dan Inggris. Di AS, perempuan meraih lebih dari setengah gelar sarjana (57%) dan gelar master (59%), serta nyaris setengah (46%) gelar doktor. Perempuan masih lebih besar kemungkinan daripada laki-laki mengambil jurusan  bidang-bidang, seperti pendidikan, keperawatan, sastra Inggris, dan psikologi.
            Status sosial ekonomi dan ras mempengaruhi akses menuju pendidikan perguruan tinggi. Pada tahun 2001, 80% lulusan sekolah menengah atas dari keluarga berpenghasilan tinggi, dibandingkan dengan hanya 44% dari keluarga yang berpenghasilan rendah, mendaftar ke perguruan tinggi segera setelah sekolah menengah atas.
Menyesuaikan Diri dengan Dunia Perguruan Tinggi
            Banyak mahasiswa baru yang kelimpungan dengan tuntutan-tuntutan perkuliahan. Dukungan keluarga, baik financial maupun emosional, tampak menjadi faktor kunci dalam penyesuaian diri, baik mahasiswa yang menempuh jarak jauh dari rumah dan bagi yang menetap di daerah kampus. Mahasiswa yang mampu beradaptasi memiliki bakat yang tinggi dan keterampilan memecahkan masalah yang baik, secara aktif terlibat dalam studi dan lingkungan akademisnya, serta menikmati hubungan dekat, tetapi mandiri dengan orang tua mereka, cenderung paling baik menyesuaikan diri dan memetik keuntungan paling banyak dari kehidupan perkuliahannya. Mahasiswa yang mandiri dan berorientasi pada prestasi cenderung menunjukkan kinerja terbaik di kelasyang menekankan pada pembelajaran arahan-mandiri, sementara mahasiswa yang bergantung pada orang lain dan mudah beradaptasi dengan lingkungan, belajar lebih baik di lingkungan yang terstruktur. Mampu membangun jaringan social dan akademis yang kuat di antara teman sebaya dan instruktur juga merupakan hal yang penting.
Pertumbuhan Kognitif di Perkuliahan
            Perkuliahan dapat menjadi periode penemuan intelektual dan pertumbuhan pribadi, terutama dalam kemampuan verbal dan kuantitatif, berpikir kritis, serta penelaran moral. Para mahasiswa berubah sebagai respon terhadap:
1.    Kurikulum, yang menyodorkan berbagai wawasan dan cara berpikir baru
2.    Mahasiswa lain yang menantang pandangan dan nilai-nilai yang telah lama dianut
3.    Budaya mahasiswa, yang berbeda dengan budaya masyarakat luas
4.    Anggota fakultas, yang memberika panutan baru
Baik berdaarkan keuntungan langsung dan jangka panjang, melanjutkan ke perguruan tinggi, perguruan tinggi apapun, lebih penting daripada perguruan tinggi apa yang diambil seseorang.

Pengalaman perguruan tinggi dapat mengarah kepada perubahan fundamental dalam cara berpikir mahasiswa. Dalam sebuah penelitian klasik, yang menjadi dasar bagi penelitian mutakhir tentang pemikiran positif dan reflektif, William Perry (1970)  mewawancarai 67 mahasiswa Harvard dan Radcliff sepanjang masa studi S1 mereka dan menemukan bahwa cara berpikir mereka bergerak dari kekakuan ke fleksibilita dan akhirnya ke berbagai komitmen yang dipilih secara bebas.

            Berbagai organisasi mahasiswa juga dapat berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. Dalam sebuah eksperimen, suatu diskusi kelompok kecil diadakan di antara 357 mahasiswa di universitas terpilih. Tiap kelompok terdiri dari tiga mahaiswa kulit putih, dan mahasiswa keempat, berkolaborasi dengan peneliti, kalau tidak berkulit putih, berkulit hitam. Diskusi dimana mahasiswa kulit hitam berpartisipasi menghasilkan gagasan yang lebih segar dan kompleks daripada diskusi yang partisipannya berkulit putih.

Menyelesaikan Perguruan Tinggi
            Walaupun mendaftar perguruan tinggi telah lazim di AS, tidak demikian dengan menyelesaikan perguruan tinggi. Hanya 1 dari 4 orang yang mendaftar perguruan tinggi, menerima gelar setelah 5 tahun. Ini tidak berarti bahwa sisanya mengundurkan diri. Makin banyak mahasiswa, terutama laki-laki, yang berkuliah lebih dari 5 tahun atau berpindah dari institusi 2 tahun ke institusi 4 tahun, menunjukkan konsistensi usaha mereka untuk mendapatkan gelar.

            Keputusan apakah seseorang menyelesaikan kuliah atau tidak bukan hanya bergantung pada motivasi, bakat akademis, persiapan, dan kemampuan untuk bekerja mandiri, tetapi juga pada integritasi dan dukungan sosial: kesempatan bekerja, dukungan financial, kecocokan dengan peraturan, kualitas interaksi social dan akademis, serta kecocokan antara yang ditawarkan oleh perguruan tinggi dan apa yang mahasiswa ingin dan butuhkan. Program-program intervensi bagi mahasiswa telah meningkatkan angka kehadiran dengan menciptakan ikatan yang bermakna antara mahasiswa dengan pengajar, menemukan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja sambil kuliah, memberikan bantuan akademis, dan membantu mahasiswa melihat bagaimana perkuliahan dapat membawa mereka ke masa depan yang lebih baik.

            Namun, penelitian lain belum secara keseluruhan menemukan  perbedaan gender yang signifikan pada penalaran moral. Pada suatu analisis berskala besar, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada respons laki-laki dan perempuan terhadap dilema sepanjang rentang kehidupan Kohlberg. Dalam penelitiannya sendiri, Gilligan mendeskripsikan bahwa perkembangan moral pada laki-laki maupun perempuan berevolusi melampaui penalaran abstrak. Gilligan menemukan banyak orang pada usia du puluhan tidak puas dengan logika moral yang sempit dan menjadi lebih mampu hidup dengan kontradiksi-kontradiksi moral. Dengan demikian, tampaknya bila penelitian awal Gilligan mencerminkan sistem nilai alternatif, penelitian tersebut tidak mengalami bias gender. Bersamaan dengan itu, pemikiran Kohlberg dan Gilligan mencapai sebuah titik temu. Kedua teori tersebut menempatkan tanggung jawab kepada orang lain  di tingkat yang tertinggi dari pemikiran moral. Keduanya mengenali pentingnya bagi kedua jenis kelamin tentang hubungan dengan orang lain, belas kasihan, dan perhatian.

2.3.2 Memasuki Dunia Kerja
            Pengaturan dunia kerja semakin bervariasi dan stabil. Perubahan-perubahan ini, bersamaan dengan pasar kerja yang semakin kompetitif dan tuntutan terhadap keterampilan  tenaga kerja yang makin tinggi, membuat pendidikan dan pelatihan menjadi semakin vital. Pendidikan tinggi memperluas kesempatan mendapatkan pekerjaan dan bayaran lebih besar dan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang bagi orang dewasa di penjuru dunia.
Pertumbuhan Kognitif pada Dunia Kerja
            Penelitian telah memperlihatkan hubungan dua arah antara kompleksitas substansif(substantive complexity) suatu pekerjaan, derajat pemikiran dan penilaian mandiri yang dituntut pekerjaan tersebut, dan fleksibilitas seseorang dalam mengatasi tuntutan kognitif.
            Penelitian otak telah memberikan pencerahan tentang bagaimana seseorang menghadapi pekerjaan kompleks. Perkembangan lobus frontal yang utuh semasa dewasa awal dapat menyiapkan seseorang mengatasi beberapa tugas bersamaan. Pencitraan resonansi magnetik menunjukkan bahwa kebanyakan daerah depan lobus frontal memiliki fungsi istimewa dalam pemecahan masalah dan perencanaan. Bagian otak ini menunjukkan aktivitas ketika seseorang butuh menunda suatu tugas yang belum selesai dan berganti perhatian ke tugas lain. Misalnya saat seseorang melanjutkan membaca laporan setelah dipotong oleh telepon.
            Menurut hipotesis tumpah(hipotesis spillover), yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara intelektualitas pekerjaan dan aktivitas waktu senggang karena terbawanya perolehan kognitif dari pekerjaan ke waktu senggang. Banyak penelitian mendukung hipotesis ini.
Menggabungkan Pekerjaan dengan Sekolah
            Bagaimana mengambil bekerja dan belajar memengaruhi perkembangan kognitif dan persiapan karir? Delapan persen lulusan mahasiswa profesional di AS dipekerjakan, 63 persen waktu-penuh dan sepanjang tahun. Kira-kira 70 persen dari mahasiswa bekerja ini menyatakan bahwa pekerjaan mereka mempersiapkan karir mereka. Namun, mereka juga melaporkan kelemahan, seperti keterbatasan pengaturan jadwal kuliah dan jumlah pilihan kelas.
Pendidikan Dewasa dan Keterampilan Kerja
Kebanyakan pekerjaan, terutama yang bayarannya tinggi, yang tidak menuntut gelar perguruan tinggi memang menuntut pelatihan pekerjaan. Para pemberi pekerjaan melihat keuntungan pendidikan pekerjaan dalam hal peningkatan moral, meningkatnya kualitas kerja, kerja kelompok dan pemecahan masalah yang lebih baik, dan kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi perubahan teknologi dan perubahan lain.
Keterampilan teknologi juga semakin diperlukan untuk berhasil dalam dunia modern dan merupakan komponen utama dalam dunia modern dan merupakan komponen utama dari pendidikan dewasa yang berkaitan dengan pekerjaan. Karyawan dewasa awal dan madya banyak menggunakan internet dan e-mail  di kantor daripada karyawan orang dewasa.
Pelatihan Literasi
            Literasi (literacy) merupakan tuntutan fundamental bagi partisipasi bukan saja di tempat kerja, tetapi juga di berbagai sisi masyarakat modern yang dikendarai oleh informasi. Orang dewasa yang melek aksara adalah mereka yang dapat menggunakan informasi cetak dan tertulis, mencapai tujuan mereka dan mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka. Pada pergantian abad, seseorang dengan tingkat pendidikan kelas empat dianggap melek aksara, sekarang ijazah menengah atas pun tidak cukup.
            Menurut survey literasi nasional dan internasional yang dilakukan sepanjang tahun 1990-an, hampir setengah orang dewasa Amerika tidak dapat memahami materi tertulis, memanipulasi angka, dan menggunakan dokumen cukup baik untuk berhasil di ekonomi sekarang.
2.3.3. Memperlancar Transisi Menuju Dunia Kerja
            Beberapa ilmuwan perkembangan, mengusulkan beberapa pertimbangan yang memperkuat hubungan antara institusi kerja dan pendidikan terutama community college:
Ø  Memperbaiki dialog antara pendidik dan pemberi kerja
Ø  Memodifikasi jadwal sekolah dan kerja untuk beradapsi terhadap kebutuhan mahasiswa yang bekerja
Ø  Memberikan kesempatan pemberi kerja merancang program-program kerja belajar
Ø  Meningkatkan ketersediaan pekerjaan sementara dan paruh waktu
Ø  Menghubungkan lebih baik apa yang mahasiswa pelajari di perkerjaan dan sekolah
Ø  Memperbaiki pelatihan-pelatihan konselor bimbingan karir
Ø  Menggunakan dengan lebih baik kelompok belajar dan pendukung, serta tutoring  dan mentoring
Ø  Menyediakan beasiswa, dukungan finansial, dan asuransi kesehatan untuk mahasiswa dengan pekerjaan paruh waktu juga penuh waktu



   BAB III
 PENUTUP

3.1. Kesimpulan
            Perkembangan kognitif dan moral merupakan perkembangan yang krusial pada manusia pada tahap dewasa dini dimana segala aspek yang mencakup didalamnya akan menentukan penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin tidak dapat ditemukan hanya sekedar dengan akademis. Banyak perubahan yang terjadi, terutama seperti yang telah diuraikan oleh Sternberg bahwa inteligensi bukan dengan IQ melainkan bagaimana seseorang mampu melampaui esxperiential dan contextual elements. Begitu juga dengan perkembangan moral yang sebenarnya kental dengan pengaruh budaya. Hal ini juga yang menghasilkan perlakuan terhadap pria dan wanita juga akan berbeda yang akan mengembangkan moral seseorang terhadapa jender itu sendiri yang secara tidak langsung berbeda.
            Perkembangan kognitif dan moral ini juga mengiring seseorang yang berada pada tahap dewasa dini siap atau tidak dalam menjalani transisi baik di perkuliahan maupun di dunia kerja. Dan hal ini juga yang akan mengiring seorang individu siap untuk masuk ke tahap dewasa tengah.



DAFTAR PUSTAKA
John W. Santrock. 2002. A Topical Approach to Life Span Development.Mc Graw-Hill

Papalia, E. Diane, dkk. 2004, Human DevelopmentHuman Development.9th Edition. McGraw-Hill.

Santrock. 2004, Life Span Development. 9thedition. McGraw-Hill.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar