Rabu, 08 Januari 2014

DAYA TARIK INTERPERSONAL : Pertemanan dan Cinta


Hubungan pertemanan dan cinta adalah dua fenomena sosial yang sangat kuat yang dekat dengan hidup manusia. Karena itulah hubungan pertemanan dan cinta telah menjadi salah satu topik penting yang sering dibahas para psikolog sosial. Pada kesempatan ini, kami akan membahas hal-hal yang memengaruhi persepsi kita atas sesama kita, peran proses atribusi dalam persepsi seseorang, kualitas orang lain yang menarik bagi kita, dan faktor-faktor yang berperan dalam mempertahankan hubungan pribadi.

1.     PROCESS OF PERSON PERCEPTION
Persepsi Individu adalah proses membentuk kesan terhadap orang lain.
a.    Proses Atribusi dalam Persepsi Manusia
Kita menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka buat dan mengapa mereka berperilaku demikian. Sayangnya, kita menilai alasan orang lain berperilaku demikian menurut pendapat kita sendiri dengan menganggap remeh akibatnya pada situasi sosial dan terlalu membesar-besarkan pentingnya karakteristik pribadi mereka. Contoh: Ketika kita bertemu seseorang di sebuah pesta yang kelihatannya depresi, kita akan beranggapan bahwa dia adalah pribadi yang selalu menyedihkan daripada berasumsi bahwa biasanya dia adalah orang yang ceria namun sesuatu hal membuat dia sedih malam ini. Sebaliknya, kita akan menghubungkan perilaku negatif diri sendiri dengan pengaruh situasi sosial. Contohnya: Ketika saya diundang ke sebuah pesta beberapa tahun yang lalu, saya mendapati diri saya merasa malu berada di antara orang-orang kaya yang berpenghasilan miliyaran per bulannya. Saya mengasingkan diri saya dan berpendapat bahwa situasi sosial di mana saya harus berhadapan dengan orang-orang tersebut telah membuat saya merasa malu, tetapi apabila saya melihat orang lain berperilaku demikian di pesta yang saya hadiri, saya mungkin akan langsung menilai orang tersebut sebagai seorang yang pemalu. Seorang psikolog sosial, Fritz Heider (1958) menamakan fenomena ini sebagai fundamental attribution error, yang artinya kecenderungan kita menganggap remeh efek situasi terhadap perilaku orang lain dan membesar-besarkan efeknya ke diri kita sendiri. Attribution adalah proses membuat penilaian tentang apa yang membuat seseorang berperilaku demikian. Hal yang paling penting dalam proses ini adalah membuat keputusan apakah seseorang berperilaku demikian karena adanya pengaruh eksternal (situational attribution) atau karena adanya motif internal atau trait (dispositional attribution). Kita sering menghubungkan perilaku orang dengan dispositional attribution kecuali adanya perubahan-perubahan yang konsisten pada perilaku dalam situasi tertentu. Karena kita kurang mempunyai informasi mengenai perubahan tersebut, akibatnya kita terlalu sering melakukan dispositional attribution.

b.    Informasi Negatif: Yang Buruk Melampaui Yang Baik
Dalam mempersepsi orang lain, kita melalui proses “cognitive algebra”, yang di dalamnya terdapat beberapa faktor yang lebih berkontribusi daripada yang lain. Kita cenderung lebih memperhatikan informasi negatif daripada informasi positif. Coba tempatkan diri Anda dalam situasi ini: Anda adalah orang yang sangat suka pada kehangatan, daya tarik fisik, dan kejujuran. Anda bertemu seseorang di kelas yang menurut  Anda sangat hangat dan menarik, Anda terlibat dalam percakapan yang menyenangkan dengan dia, tetapi di tengah percakapan, dia meminta Anda untuk membantunya memikirkan sebuah alasan ketika pacarnya menanyakan keberadaannya. Pendapat Anda tentang dia mungkin akan menjadi sangat negatif jika kejujuran benar-benar penting bagi Anda. Fakta bahwa dia tidak jujur ​​dengan pacarnya akan menutupi karakter dia  yang positif. Contoh lainnya, sebagian besar dari kita tidak akan makan kue yang tampak lezat jika kita tahu kue itu mengandung sedikit racun tikus, walaupun hanya sedikit.

c.    “Chemistry” pada Cinta dan Ikatan Sosial
Berbicara tentang 'chemistry', kita biasanya mengacu pada perasaan sesuatu tentang seseorang, proses jatuh cinta, sesuatu yang sangat kuat namun tidak dapat disentuh jari kita. Sebagian besar penelitian mengatakan bahwa ada zat kimia yang sangat mempengaruhi proses 'chemistry'.
Meskipun buktinya masih tentatif, tampak bahwa orang yang berkeringat menghasilkan hormon seks steroid, khususnya androstadien. Ketika perempuan menghasilkan hormon ini saat bersama laki-laki, mood mereka menjadi baik dan bagian pada otak yang terlibat dalam emosi diaktifkan. Tidak jelas apakah hormon seks memiliki efek cukup kuat untuk mempengaruhi daya tarik seksual, tetapi studi-studi awal menunjukkan kemungkinan itu.
Ada bukti lebih kuat bahwa bahan kimia peptida ditemukan di otak dan aliran darah, oksitosin memainkan peran penting dalam menciptakan ikatan cinta, apakah itu antara orangtua dengan anak atau antar pasangan romantis. Kedekatan dan sentuhan fisik melepaskan oksitosin di otak. Oksitosin akan menciptakan ketenangan, keamanan, dan kesejahteraan, dan mengurangi respon dari cabang saraf pusat dan perifer dari sistem saraf untuk menekan respon fisik dan emosi positif yang dapat dikondisikan pada orang lain dan menghasilkan ikatan antara dua orang. Selain itu, hal positif yang ditimbulkan oleh oksitosin membuat orang melakukan pendekatan fisik lebih lanjut, yang nantinya akan memperkuat ikatan. Jadi, bagian dari apa yang kita alami sebagai cinta tampaknya berawal dari suatu bahan kimia yang menenangkan otak, tubuh dan mood.

2.     CHARACTERISTIC OF THE OTHER PERSON IN INTERPERSONAL ATTRACTION
a.    Karakteristik yang Mirip dan Saling Melengkapi
Umumnya, kemiripan adalah daya tarik yang sangat penting. Kita akan cenderung sangat tertarik pada orang yang memiliki kesamaan dengan kita baik hobi, sikap maupun minat. Meskipun demikian, perbedaan juga dapat menjadi menarik. Perbedaan disini yaitu karakteristik yang berlawanan dengan karakteristik yang kita miliki. Perbedaan ini akan memiliki daya tarik bila karakteristik yang berlawanan ini dapat melengkapi karakteristik kita atau cocok dengan salah satu karakteristik kita.
Misalnya, Ana adalah seorang yang pendiam dan Ana merasa tertarik dengan pria yang ramah. Ana merasa bahwa dia sebagai pendengar yang baik akan cocok bersama dengan pria yang suka bicara daripada dengan pria yang pendiam seperti dirinya. Ana juga berpendapat bahwa dia akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang lain bila bersama dengan pria yang ramah. Demikian juga, seseorang yang dominan akan mungkin lebih tertarik pada orang yang submisif/ penurut.
Ketika ada seseorang yang menyukai kita namun karakteristiknya berlawanan dengan diri kita, maka kondisi ini juga dapat menimbulkan daya tarik. Akan menyenangkan bila kita disukai oleh seseorang yang justru berbeda dengan kita. Tetapi yang perlu diingat bahwa karakteristik yang berlawanan bisa menjadi tidak menarik dalam hubungan pribadi. Contohnya, orang yang religius tidak akan tertarik pada orang-orang yang menghina agamanya.

b.    Kompentensi dan “Ideal Self” Kita
Kita akan cenderung lebih tertarik pada orang yang ahli/ berkompeten daripada orang yang tidak berkompeten. Kemampuan intelegensi, kekuatan, kemampuan sosial, pendidikan, dan-lain-lain, umumnya dianggap sebagai suatu daya tarik. Tetapi orang yang terlihat terlalu kompeten/ ahli akan kehilangan daya tariknya, karena kita merasa tidak nyaman bila dibandingkan dengannya.
Umumnya, kita cenderung tertarik pada orang yang punya kualitas sama dengan “ideal self” kita. Namun di sisi lain, kita juga cenderung menyukai seseorang yang tidak terlalu sempurna karena kita cenderung tidak suka bila ada orang yang lebih bisa mirip dengan ideal self kita dibandingkan diri kita sendiri.

c.    Daya Tarik Fisik
Daya tarik fisik cukup mempengaruhi ketertarikan antar pribadi. Orang-orang  cenderung lebih tertarik pada orang yang fisiknya cantik dan indah. Kita cenderung lebih menyukai orang yang cantik/tampan sebelum mengetahui bagaiman orang itu sebenarnya. Kita cenderung menilai bahwa orang yang cantik/tampan itu lebih baik, lebih mudah beradaptasi, lebih pintar dan sensual. Daya tarik fisik merupakan faktor paling penting dalam tahapan awal suatu daya tarik.
Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Elaine Walster dan rekannya, mereka memasangkan mahasiswa pria dan wanita secara acak untuk berkencan. Mereka menilai daya tarik fisik yang dimiliki setiap mahasiswa dan memberi tes untuk mengukur sikap, intelegensi, dan karakteristik kepribadian masing-masing mahasiswa. Setelah saling berkencan, mahasiswa-mahasiswa tersebut ditanya mengenai seberapa jauh mereka menyukai pasangan kencannya dan apakah mereka berniat untuk berkencan lagi. Ternyata pasangan yang saling menyukai dan ingin berkencan lagi adalah mahasiswa yang menilai pasangannya sebagai orang yang menarik.
Terdapat eksperimen lain yang cukup menguatkan pengaruh daya tarik fisik ini. Dalam suatu studi mengenai cara orang berkenalan, subjeknya terdiri dari mahasiswa pria dan wanita. Mahasiswa pria diminta untuk berkenalan dengan wanita melalui telepon (untuk mengesampingkan adanya komunikasi nonverbal) dan setiap pria diberi foto dan informasi mengenai wanita yang diteleponnya. Para wanita dalam studi ini dipasangkan secara acak dengan pria yang meneleponnya dan tidak diberi foto maupun informasi mengenai pria yang meneleponnya. Informasi yang dilihat masing-masing  pria itu semuanya sama, namun sebagian pria diberi foto wanita yang sangat menarik dan sebagian lagi diberi foto wanita yang kurang menarik.
Setelah mereka berkenalan dan mengobrol di telepon, para pria yang mengira mereka sedang  berbicara dengan wanita cantik menilai wanita tersebut lebih ramah, tenang, dan lucu daripada pria yang mengira mereka sedang berbicara pada wanita yang tidak menarik. Sama halnya dengan penelitian sebelumnya bahwa dengan daya tarik fisik yang lebih besar akan menyebabkan seseorang menjadi lebih disukai.
Peneliti menemukan bahwa pria yang mengira mereka sedang berbicara dengan wanita cantik akan lebih ramah dan hangat ketika berbicara denga wanita itu dan lebih menikmati percakapan itu. Jadi, bila pria mempersepsi atau menganggap bahwa wanita itu cantik maka pria itu akan menjadi lebih menarik dan mempesona terhadap wanita itu.
Peneliti juga menemukan bahwa wanita yang berbicara dengan pria yang menganggap wanita itu cantik, maka wanita itu akan berbicara lebih percaya diri, menawan, dan terlihat menyukai pria itu. Jadi, ketika pria menganggap wanita itu cantik maka wanita itu akan bertindak lebih menyenangkan.
Namun orang-orang sebenarnya cenderung mencari pasangan yang sesuai atau setara tingkat daya tarik fisiknya dengan dirinya sendiri. Keindahan fisik merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Jadi ketika kamu berpikir bahwa seseorang itu tidak cantik, mungkin akan ada orang lain yang menganggap orang itu cantik. Memang benar bahwa kita lebih menyukai seseorang bila menurut kita orang itu cantik, namun seiring kita semakin mengenal dan menyukai pasangan kita, kita akan mulai berpikir bahwa pasangan kita lebih cantik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar