Jumat, 07 Juni 2013

LAPORAN OBSERVASI E-LEARNING PSIKOLOGI PENDIDIKAN


 

A.        IDENTITAS SEKOLAH
           Nama Sekolah                     : SMA Swasta Kristen Methodist 1
Alamat                                 : Jl. Hang Tuah No.1, Medan
           Uang Sekolah                     : Rp1.000.000,00
           Konsep e-Learning             : Offline
           Sejak Kapan e-Learning    : 2008

B.        URAIAN AKTIVITAS OBSERVASI
           Hari dan Tanggal              : Kamis, 23 Mei 2013
           Waktu Pelaksanaan         : 90 menit ( 12.00 – 13.30 WIB)
Unit Observasi                 : Penggunaan E-Learning

Unit Lain Observasi : Motivasi, Pendekatan Pembelajaran, Perencanaan  Pembelajaran dan Pengelolaan Kelas.

            Kelas Observasi               : X-internasional
            Narasumber                      : B. Sitorus
 Pembagian Tugas             :  
 Yoshinta            :    e-Learning dan Identitas Sekolah
 Megawati          :     Motivasi
 Maria                :     Pengelolaan kelas                                                      
 Claudia             :     Pendekatan pembelajaran                                                            
 Abella               :     Perencanaan pembelajaran
 
C.      LAPORAN HASIL OBSERVASI
I.          PENDAHULUAN

           Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan (Santrock : 2011). Oleh karena itu, pada masa ini, psikologi pendidikan memiliki peran yang sangat penting bagi guru dan dosen (pendidik) dalam melaksanakan pengajaran dan bagi peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kajian psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar dan pengelolaan organisasi sekolah dan kelas. Maka, masalah utama dalam psikologi pendidikan adalah masalah belajar dan mengajar sebagai operasional dalam usaha pendidikan.

        Salah satu aspek yang tidak dapat dilupakan dan dilepaskan dalam pendidikan adalah teknologi. Segala aspek kehidupan manusia kini telah berkaitan dengan psikologi, bukan hanya dalam pendidikan saja. Penerapan teknologi dalam dunia pendidikan sudah dimulai sejak beberapa decade yang lalu, walaupun teknologi yang dipakai masih sederhana dan berubah dengan lambat. Namun, beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi sudah semakin pesat, berbagai alat dan progam telah diciptakan untuk membantu proses pembelajaran.

II.            LANDASAN TEORI
              
               Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa decade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban. Namun, kini teknologi berubah secara dramatis (Santrock:2011) perkembangan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan berkembang begitu pesat baik secara kuantitas dan kualitas.

Perkembangan tersebut tampak dengan pengadaan computer dan berbagai alat berbasis teknologi disekolah-sekolah, dimasukkannya pelajaran teknologi, informasi dan komunikasi kedalam kurikulum dan pelatihan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan bagi para guru.
               Dalam penggunaannya, antar computer terkoneksi dengan jaringan yang bernama internet yang akan menghubungkan antar computer. Sistem ini menyediakan informasi yang tidak terbatas dan dapat diakses dengan mudah. Dalam banyak kasus, computer menyimpan lebih banyak informasi dan masih lebih baru dibandingkan dengan buku.
Sistem informasi hypermedia yang menghubungkan berbagai ,materi di internet dalam upaya pengambilan informasi bernama world wide web. Sistem ini memberikan struktur yang dibutuhkan internet. Website adalah lokasi individu atau organisasi di internet, websitelah yang menampilkan informasi yang dimasukkan oleh individu atau organisasi. Email atau electronic mail adalah bagian penting dari internet. Pesan dapat dikirim dan diterima individu melalui sistem yang bernama email ini. Fasilitas yang telah ada ini dapat mempermudah jalannya proses pendidikan, karena pendidik dan peserta didik akan lebih mudah untuk search and share informasi yang berkaitan dengan pendidikan.

1.   Teori Motivasi

Motivas adalah suatu proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Dimana perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama
PERSPEKTIF TENTANG MOTIVASI :
·  Perspektif behavoiral à menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dlam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif  yang dapat memotivasi peilaku murid.
·  Perspektif humanistis à menekankan pada kapasitas murid untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow.
·  Perspektif kognitif à  menekankan bahwa murid akan memandu motivasi mereka, artinya agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggungjawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka.
·  Perspektif Sosial à kebutuhan afiliasi dianggap akan mempengaruhi motivasi murid, di mana murid yang mempunyai hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya akan memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah.

2.    Teori Belajar
Berikut ini beberapa pendekatan untuk teori belajar :
1.    Pendekatan Behavioral Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang diamati, bukan dengan proses mental. Pengkondisian klasik dan operan yang merupakan dua pandangan behavioran menekankan pembelajaran asosiatif, yang terdiri dari pembelajaran dua kejadian yang saling terkait (asosiated)
2.    Pendekatan Kognitif Ada 4 pendekatan kognitif utama dalam pembelajaran yaitu :
a.   Kognitif sosial à menekankan bagaimana factor perilaku, lingkungan, dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran.
b.   Pemprosesan informasi à menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya.
c.   Konstruktivis kognitif à menekankan kontruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pemahaman
d.   Kontruktivis sosial à fokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.

3.    Orientasi Belajar
       i.       Teacher Centered Learning
     Teacher Centered Learning atau pengajaran berorientasi pada guru, pembelajaran ini mencakup pembuatan sasaran perilaku, analisis tugas dan mengembangkan taksonomi intruksional. Pengajaran ini berorientasi pada guru yang terstruktur, dimana guru mengatur dan mengontrol, mengharapkan kemajuan murid, memaksimalkan waktu murid untuk tugas-tugas akdemik, dan menekan sikap negative sampai ke tingkat minimum.         

   ii.          Student Centered Learning
Perencanaan pembelajaran ini fokus pada kelas, bukan pada guru. Prinsip yang digunakan adalah prinsip kognitif dan metakognitif, factor motivasi dan emosional, factor perkembangan sosial, dan factor perbedaan individual.
Pembelajaran berbasis problem berfokus pada diskusi kelompok kecil ketimbang pengajaran. Murid mengidentifikasi isu yang akan mereka kaji, dan guru bertindak sebagai pembimbing, membantu merid memonitor upaya pemecahan masalah mereka.

4.   Manajemen Kelas
            PANDANGAN TENTANG MANAJEMEN KELAS Pandangan lama menekankan pada penciptaan dan pengaplikasian aturan untuk mengontrol tindak tanduk murid. Pandangan yang baru memfokuskan pada kebutuhan murid untuk mengembangkanhubungan dan kesempatan untuk menata diri (Kennedy,dd,2001). Manajemen kelas ini disusun dengan beberapa gaya penataan yakni :
1.   Gaya auditorium àgaya susunan kelas dimana semua murid duduk menghadap guru
2.   Gaya tatap muka à gaya susuna kelas dimana murid saling menghadap
3.   Gaya off-setà gaya susunan kelas dimana sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain
4.   Gaya seminar à gaya susuna kelas dimana sejumlah besar murid (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran , atau persegi, atau bentuk U
5.   Gaya klaster à gaya susunan kelas dimana sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja sama dalam kelompok kecil.

 III.           Hasil Observasi 1.   Pelaksanaan E-Learning
                 Berdasarkan observasi, sekolah telah menyediakan seperangkat komputer dan proyektor di ruang kelas. Kedua alat inilah yang digunakan untuk pelaksanaan e-learning. Yang menjadi kendala dalam pelaksanaan e-learning adalah tidak berfungsinya wi-fi dengan baik, sehingga menyulitkan kelas untuk melakukan pencarian informasi yang mendukung pembelajaran. Selain itu, jika terjadi pemadaman listrik pembelajaran juga akan beralih kembali ke konsep manual karena ketiadaan genset.

               E-learning yang dilaksanakan secara umum masih sederhana. Guru menjelaskan kepada murid dengan menggunakan proyektor yang menampakkan bahan ajar atau murid yang melakukan presentasi dihadapan murid lain dan guru. Sistem yang masih sederhana ini juga dikarenakan oleh fasilitas dari sekolah yang masih kurang memadai, selain tidak ada wi-fi sekolah juga tidak dilengkapi dengan website sekolah yang menyediakan berbagai bahan ajar dan e-library.

                 Menurut wawancara kepada salah satu guru, pada masa awal penerapan e-learning sekolah dilengkapi dengan wi-fi dan website hanya saja kurangnya perawatan menyebabkan terhentinya penggunaan wi-fi dan kurang di updatenya website. Namun, untuk menyiasati ketiadaan wi-fi, murid dan guru berinisiatif untuk menggunakan modem yang dimiliki siswa untuk mencari informasi yang mendukung pembelajaran.

 2.   Orientasi Belajar
          Berdasarkan observasi, perencanaan pembelajaran yang dipergunakan adalah Teacher Centered Learning, perencanaan ini tampak jelas selama observasi, karena guru memberikan arahan yang semua berpusat pada guru. Dalam mengajar guru menggunakan motode  ceramah dan dilanjutkan dengan respon murid.Namun, berdasarkan wawancara pada guru, metode yang digunakan bervariasi. Perencanaan pembelajaran Student Centered Learning juga terkadang dipergunakan, namun teacher centered learning lebih mendominasi.

3.   Pengelolaan Kelas

      Gaya penataan kelas yang digunakan adalah auditoium, yang mana seluruh murid duduk menghadap guru. Gaya ini sangat mendukung pelaksanaan e-learning yang dimana secara umum, guru atau siswa melakukan presentasi di depan kelas. Jadi, dengan gaya penataan ini, seluruh murid akan memperhatikan oknum yang berdiri di depan kelas.

        Lingkungan kelas yang diciptakan lebih mengarah pada penggunaan gaya manajemen kelas otoritatif, yaitu gaya yang melibatkan murid dalam kerja sama give-and-take dan menunjukkan sikap perhatian kepada siswa (Santrok:2011). Guru juga menjelaskan aturan dan regulasi, menentukan standar dan dengan masukan dari murid. Gaya manajemen kelas ini sangat didukung oleh jumlah murid yang hanya 12 orang, sehingga guru dapat memberikan perhatian kepada setiap murid.

        Penggunaan gaya tersebut juga didukung dengan penggunaan ruangan kelas yang tidak terlalu luas, akan tetapi menjadi sedikit ganjil, karena dalam ruangan kelas terdapat kursi dan meja yang jumlahnya melebihi jumlah siswa dan tidak tertata dengan baik, selain itu pendingin ruangan yang ada tidak berfungsi dengan baik, kelas juga kurang bersih dan tertata.

4.   Pendekatan Pembelajaraan

      Dalam pembelajaran dikelas ini, pemberian reward dan punishment sangatlah berpengaruh. Pengaruh pemberian reward dan punishment sangat mempengaruhi siswa, yang mana kelas menjadi sangat aktif. Berdasarkan wawancara kepada salah satu siswa, kelas menjadi sangat bersemangat karena ada nilai tambahan (reward) bagi setiap siswa yang aktif dikelas.

       Selain itu, rata-rata siswa memiliki keinginan yang kuat untuk mampu menguasai pelajaran dan meraih juara. Aspek-aspek tersebut sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung dikelas. Bisa dikatakan pendekatan pembelajran behavioral dan kognitif berlangsung didalam kelas yang diobservasi tersebut.

 5.   Motivasi
       Motivasi belajar yang dimiliki siswa selama observasi sangatlah baik. Berdasarkan observasi, perspektif motivasi yakni behavioral, kognitif, dan humanistis dapat terlihat dari gaya belajar siswa. Berikut uraiannya :
ü  Humanistisà Siswa bebas dan aktif memberikan tanggapan maupun pertanyaan mengenai materi baik kepada guru maupun kepada teman sekelas.
ü  Kognitif à Siswa tampak sangat percaya diri dalam memperlihatkan kemampuan dalam menjawab pertanyaan mengenai materi dan juga berfokus pada ide-ide masing-masing dalam memberi tanggapan mengenai materi.

ü  Behavioral  à  Siswa tampak semakin termotivasi dalam menanggapi pertanyaan ataupun memberi tanggapan dengan adanya reward berupa nilai tambahan dari guru.

IV.          RANGKUMAN HASIL OBSERVASI
4.1 Rangkuman Kelompok

     Sistem e-learning telah berjalan cukup lama di SMA Methosdist 1 Medan, fasilitas yang ada sudah cukup memadai untuk melakukan pembelajaran dengan konsep e-learning offline. Pengelolaan kelas, perencanaan pembelajaran dan pendekatan pemberlajaran yang digunakan juga saling terkait dan saling mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran.
     Motivasi siswa dalam belajar juga sangat mendukung berjalannya sistem pembelajaran ini, walaupun ada aspek-aspek kecil yang kurang diperharikan seperti keadaan kelas yang kurang ergonomis dan kekurangan fasilitas. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung di SMA Methodist 1 Medan tidak jauh dari efektif.

4.2 Rangkuman Pribadi  
         MARIA A SIMANJUNTAK (12-042)
         Penggunaan metode e-learning ini masih sangat baru di kalangan sekolah, walaupun di negara-negara maju metode ini sudah sangat familiar bagi mereka. Metode ini banyak diterapkan oleh sekolah-sekolah dengan tujuan pemanfaatan teknologi dalam belajar dan pengefektifan pembelajaran untuk semakin terlihat nyata seperti penayangan video sesuai dengan materi. Dengan metode e-learning ini sangat membantu meningkatkan kreativitas dan pengetahuan para murid. Salah satu metode e-learning adalah dengan disediakannya fasilitas wifi, proyektor di kelas, dan komputer/ laptop. Namun dengan adanya fasilitasnya ini diharapkan juga adanya sumber daya guru yang potensial juga, maksudnya adalah guru memiliki pengetahuan mengenai e-learning, sehingga metode pembelajaran dapat terlaksana dengan optimal. Menurut dari hasil observasi kami. Sekolah Methodist 1 telah menghadirkan metode ini ke tengah-tengah siswa. Terlihat darikelas internasional mereka, yang telah menggunakan laptop dan proyektor, dan dengan metode ini juga mendapat respon yang baik dari siswanya sendiri, belum lagi gaya penataan kelasnya berbentuk auditorium yang memungkinkan akses yang efektif dengan gurur, sehingga materi pelajaran dapat diserap oleh siswa. Dalam disetiap tindakan pasti memiliki efek sampingnya. Salah sau efek negatif dari e-learning ini adalah pengaksesan situs-situs yang dapat memperburuk moral siswa, untuk itu agar kiranya setiap sekolah juga di lengkapi dengan pengamanan bagi situs-situs yang tidak menguntukngkan bagi perkembangan intelektual siswa
V.           TESTIMONI TENTANG PERENCANAAN DAN PROSES OBSERVASI
YOSHINTA GRACIA E LUMBANBATU (12-032): Menurut saya, perencanaan dan proses observasi berjalan dengan baik. Segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana. Memang ada beberapa masalah kecil yang muncul secara tidak terduga, namun tidak begitu mengganggu jalannya observasi.
      CLAUDIA GENEROSA ARUAN (12-068) : Menyenangkan akhirnya bisa menyelesaikan tugas observasi ini dengan baik. Mulai dari pencarian sekolah, penyetujuan dari kepala sekolah, hingga pelaksanaan observasi. Kebetulan kami diizinkan untuk mengobservasi ke kelas internasional. Jadi saya berpikir berarti pembelajaran e-learning yang diterapkan pada mereka pasti lebih baik. Guru yang ada disekolah itu juga ramah-ramah dan bersahabat. Oleh karena itu saya pribadi merasa cukup puas saat melakukan tugas observasi tersebut. Siswa-siswa dikelas tersebut juga baik-baik dan sopan. Saat kami mewawancarai, mereka sangat berpartisipasi dengan baik. Sekian J
MARIA A SIMANJUNTAK (12-042) : Ketika mendapat tugas observasi ini awalnya bingung, karena saya kurang begitu tertarik dengan tugas ini. Pertama , awalnya kami bingung mencari sekolah yang akan diobservasi, belum lagi surat izinnya. Namun, setelah dilalui ternyata menyenangkan, banyak hal yang saya dapat dari observasi e-learning ini. Awal masuk ke kelas , gugup juga karena saya tidak terlalu lihai dalam berinteraksi dengan mereka, namun semua dapat terselesaikan. Dalam observasi ini kami membagi tugas, dan saya dapat bagian Manajemen Kelas, dimana saya mengamati struktur kelas mereka, pola pengajaran guru, gaya penataan kelas, dan lain-lain. Ternyata gaya pembelajaran saat sudah sangat canggih dan banyak mengandalkan media elektronik seperti internet,proyektor, dan lain-lain. Belum lagi yang kami observasi kelas internasional di Methodist 1 Medan. Sungguh sangat berbeda dengan cara belajar saya saat menduduki bangku sekolah. Diharapkan dengan adanya program e-learning ini, maka para siswa agar lebih efektif belajar dan dapat menggunakannya untuk kepentingan pembelajaran.

         ABELLA SARAGIH (12-078) : Saya merasa senang dan bangga karena untuk pertama kalinya saya melakukan observasi ini. Temen-temen dan guru dimethodist juga sangat ramah dan sangat baik dalammenerima kami untuk melakukan observasi ini. Mereka sangat membantu dan menganggap serius tugas yang kami lakukan tersebut. Suasana kelas juga cukup mendukung kami dalam melakukan observasi ini. Murid-muridnya ikut berpartisipatif dalam penyelesaian tugas ini.  

MEGAWATY MAYA SHINTA MUNTHE: Saya merasa observasi pendidikan ini menarik karena ini merupakan pengalaman pertama melakukan tugas observasi. Awalnya saya sangat merasa cukup mengerti bagaimana cara observasi. Namun, ketika dipraktekkan cukup agak rumit dan tantangannya adalah menilai secara objektif apa yang dilihat. Akhirnya setelah lama berpikir di dalam kelas dan mencoba untuk menilai motivasi belajar siswa selama observasi, saya akhirnya dapat membuat hasil observasi. Keadaan siswa yang cukup aktif dalam menanggapi kami sebagai obeserver pada akhir pelajaran juga menambah semangat saya dalam melakukan tugas observasi ini.

 

 

 

 

    

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar