Kamis, 30 Mei 2013

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


A.    SLB – A ( Tuna Netra)


SDLB-A  atau Sekolah Dasar Luar Biasa- A adalah sekolah yang ditujukan bagi anak yang menyandang tuna netra


a.   Jenis – jenis Tuna Netra
1.  Totally blind (Buta menyeluruh)
2.  Low vision (Buta sebagian)

  Buta sebagian yang walaupun sudah diberi alat bantu penglihatan tetapi masih membutuhkan bantuan khusus


b.   Ciri – ciri anak Tuna Netra
1.  Sering terjatuh atau tersandung saat berjalan
2   Tidak mampu melihat
3   Tidak mampu mengenali orang pada jarak normal
4   Kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya
5   Mata yang bergoyang terus
6   Bagian Bola mata yang hitam  kering/keruh/bersisik 
7   Pandangan hebat pada kedua bola mata

c.    Landasan


1.  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional
2.  Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
3.  Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan
4.  Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
5.  Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
6.  Panduan Pernyusunan KTSP yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.


d.   Visi SLB – A


Mengembangkan life skill dan karakter dalam upaya mencapai kemandirian anak berkebutuhan khusus

Misi SLB – A
1.    Menciptakan siswa tuna netra yang bertaqwa, beriman dan berakhlak mulia.
2.    Membantu anak tuna netra dengan memberikan kesempatan belajar.
3.    Membantu anak tuna netra untuk mengatasi masalah kelainannya.
4.    Membantu tuna netra khusus untuk mengembangkan dirinya baik dalam seni, teknologi, keterampilan dan ilmu pengetahuan.
5.    Membantu anak tuna netra menjadi anak yang mandiri dan kreatif.

 e.       Tujuan


Menjadikan anak tuna netra sebagai anggota masyarakat yang mandiri dan kreatif dengan memberikan
dasar-dasar pendidikan dan keterampilan.


1. Pengembangan Diri
2. Rutin
3. Terprogram
4. Spontan
5. Teladan


f.       Rutin

1. Berdoa sebelum dan sesudah belajar
2. Pemeriksaan kesehatan gigi
3. Membaca di perpustakaan
4. Terprogram
5. Kegiatan Keagamaan
6. Peringatan hari bersar nasional
7. Pengenalan lingkungan


g.      Spontan


1. 3S (Senyum,Sapa dan Salam)
2  Saling menolong


h.      Kenaikan kelas dan Kelulusan


1. Menyelesaikan semua pelajaran berdasarkan standar kelulusan
2. Kehadiran miniman 65%
3. Berkarakter baik


 B.     SLB – B (Tuna Rungu)



Anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baiksebagian atau seluruhnya yag diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengaranya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks
a.      Karakteristik SLB – B


1.   Kemampuan verbal (verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibandingkan kemampuan verbal anak mendengar.
2.   Namun performance IQ anak tunarungu sama dengan anak mendengar.
3.   Daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih rendah daripada anak mendengar terutama pada informasi yang bersifat suksesif/berurutan.
4.   Namun pada informasi serempak antara anak tunarungu dan anak mendengar tidak ada perbedaan.
5.   Daya ingat jangka panjang hampir tak ada perbedaan, walaupun prestasi akhir biasanya tetap lebih rendah.
6.   Kemampuan verbal (verbal IQ) anak tunarungu lebih rendah dibandingkan kemampuan verbal anak mend
7.   Namun performance IQ anak tunarungu sama dengan anak mendengar.
8.   Daya ingat jangka pendek anak tunarungu lebih rendah daripada anak mendengar terutama pada informasi yang bersifat suksesif/berurutan.
9.   Namun pada informasi serempak antara anak tunarungu dan anak mendengar tidak ada perbedaan.
10.  Daya ingat jangka panjang hampir tak ada perbedaan, walaupun prestasi akhir biasanya tetap lebih rendah.


b.      Klasifikasi SLB – B


1.   Sangat ringan 27 – 40 dB
2.   Ringan 41 – 55 dB
3.   Sedang 56 – 70 dB
4.   Berat 71 – 90 dB
5.   Ekstrim 91 dB ke atas Tuli


c.       Sarana Fisik Sekolah


Karakteristik


1.  Suasana yang tentram, tidak berdekatan dengan pasar atau bengkel, pabrik-pabrik. Suasana yang ramai dari hiruk pikuk dengan segala macam bunyian yang merusak telinga tidak menguntungkan anak-anak tuli apa lagi kalau anak tuli itu sedang mengadakan latihan mendengar dengan Hearing Aid.
2.  Tanah yang disediakan selain untuk membangun juga cocok bagi latihan berkebun, beternak dan sebagainya.
3.  Adanya fasilitas air, listrik yang dapat menjadi penunjang sarana pendidikan


Keamanan dan transportasi


1.  Letak sekolah harus strategis dalam arti sekolah dihubungkan dengan bagian-bagian lain oleh jalan yang baik dan yang cukup dilalui kendaraan umum. Sehingga memudahkan orangtua murid, dokter dan lainnya ke lokasi sekolah.
2.  Agar sekolah benar-benar dapat menjadi tempat pengembangan potensi bagi anak penyandang tunarungu hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:


d.      Tata Letak Ruang


1.   Ruang kelas biasa. Bangunan dan ruang kelas untuk anak tunarungu dan anak normal pada umumnya tidak berbeda dengan sekolah umum yaitu bangunan harus kokoh, udara harus cukup untuk anak dan selalu segar karena ventilasi yang sempurna, dinding dan lantai harus kering tidak boleh lembab, penerangan harus cukup dan cahaya dari luar hendaknya datang dari sebelah kiri anak
2.   Ruang latihan bicara dan ruang audiometri sebaiknya agar tidak terganggu oleh anak-anak lain, pelajaran latihan bicara diberikan dalam suatu ruang khusus, cukup untuk 1 guru 2 anak dan alat-alat yang diperlukan.
3   Ruang Audiometri. Ruang untuk keperluan meneliti dan mengukur (sisa) pendengaran dengan audimeter, merupakan ruang khusus yang letaknya sejauh mungkin dari sumber kegaduhan. Ruang itu dibuat kdap suara; sedemikian sehingga seberapa boleh tidak ada suara dapat masuk. Dinding dibagian dalam sebaiknya terdiri atau dilapisi bahan peredap suara.


e.       Alat pendidikan khusus


1) Audiometer 
Yaitu alat penelitian yang dapat mengukur segala aspek dari pendengaran seseorang. Dengan audiometer dapat dibuat sebuah audigram yang dapat memberitahukan angka dari sisa pendengaran anak.


            2) Alat bantu mendengar (hearing aid) 
             Dengan mempergunakan alat bantu dengar (hearing aid) perorangan dan alat bantu dengan (group hearing aid) kelompok, anak-anak tunarungu diberikan latihan mendengar. Latihan-latihan tersebut dapat diberikan secara individual atau secara kelompok.


            3) Cermin 
              Untuk memberikan cantoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat.


            4) Alat bantu wicara (speech trainer)
              Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya.


f.       Alat peraga


Untuk memperkaya perbendaharaan bahasa anak hendaknya jangan dilupakan alat-alat peraga tradisional seperti:
1) Miniatur binatang-binatang
2) Miniatur manusia
3) Gambar-gambar yang relevan
4) Buku perpustakaan yang bergambar
5) Alat-alat permainan anak


g.      Tenaga Pendidikan


1.    Kepala Sekolah bertugas dan bertanggung jawab memimpin/manajemen dari terselenggaranya program pendidikan pada sekolah luar biasa yang dibinanya.
2.    Guru Latihan Bicara, Semua guru untuk anak tunarungu harus mempunyai keahlian untuk memberi latihan bicara, latihan bicara secara klasikal dapat diberikan setiap hari di kelas.
3.    Ahli Bina Wicara bertugas mencari sebab-sebab kesukaran bicara atau kelainan bicara yang bersumber pada kesukaran-kesukaran psikologis.
Misalnya kelainan emosi (takut, malu, tertekan, rasa rendah diri, tidak percaya pada kemampuan diri, merasa diperlakukan kurang adil, kurang diperhatikan, kurang kasih sayang) serta memberikan terapinya dengan program yang matang.

4.    Guru mata pelajaran yang lain sama dengan guru mata pelajaran pada sekolah normal lainnya seperti guru agama, guru olahraga, kesenian dan lainnya sama dengan sekolah normal.


h.      Tenaga ahli


1.    Dokter THT (Dokter spesial telinga hidung dan tenggorokan) ia bertugas mengevaluasi hidung, tenggorokan dan telinga, untuk menetapkan apakah organ-organ tersebut berfungsi normal,
2.    Audiometris bertugas memeriksa derajat sisa pendengaran anak, memeriksa anak mendengar dengan kondisi hawa atau dengan kondisi tulang, ia juga menentukan sisa pendengaran pada telinga kiri dan kanan serta menentukan
jenis alat

3.    Psikolog menentukan tingkat kecerdasan anak, menentukan kalainan-kelainan psikologis lainnya yang berpengaruh negatif pada diri anak misalnya perkembangan kepribadian anak, kemampuan ingatan anak,dll.
4.    Pekerja Sosial bertugas mengumpulkan data terutama yang berhubungan dengan latar belakang sosial anak problem-problem yang terjadi hubungan antar keluarga, latar belakang ekonomi keluarganya, sikap sosial anak, orangtua dan masyarakat sekitar.
5.    Orto Pedagogik atau seorang ahli pendidikan anak luar biasa bertugas dan berwenang menentukan jenis program pendidikan untuk setiap kelompok anak tunarungu. Bimbingan dan Penyuluhan selama anak mengikuti pendidikan di sekolah perlu diselenggarakan bimbingan dan penyuluhan yang positif dalam berbagai keaktifan hidup mereka.


C.     SLB – C (Tuna Grahita)


Anak yang mengalami hambatan dan keterlambatan mental jauh dibawah rata-rata.


a.      Ciri – ciri SLB – C


1.    penampilan fisik tidak seimbang
2.    tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai dengan usianya
3.    perkembangan bicara/bahasanya terhambat
4.    kurang perhatian pada lingkungan 
5.    koordinasi gerakannya kurang
6.    sering mengeluarkan ludah tanpa sadar


b.      klasifikasi anak Tuna Grahita


1.    Tunagrahita Ringan (IQ 51-70)
Mampu dididik dan dilatih, dan tak perlu pengawasan ekstra
2.    Tunagrahita Sedang (IQ 36-50)
Tidak mahir dalam mengerjakan sesuatu, hanya perlu sedikit pengawasan

3.    Tunagrahita Berat (IQ <20)
Tidak dapat mengurus diri sendiri, oleh sebab itu sangat membutuhkan pengawasan ekstra



c.       Pelayanan sekolah


1.    Kelas Transisi
2.    Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C, C1)
3.    Pendidikan Terpadu
4.    Program Sekolah di rumah
5.    Pendidikan Inklusif
6.    Griya Rehabilitasi

d.      Fasilitas


1.Fasilitas pendidikan dan penunjang pendidikan bagi anak tunagrahita yang berkaitan dengan latihan sensorimotorik :


         Berkaitan dengan visual : berbagai bentuk benda
         Berkaitan dengan perabaan dan motorik tangan : manik-manik, benang, krayon, wash, lotion, dan lain-lain
         Berkaitan dengan pembau : kamper. Minyak kayu putih
         Berkaitan dengan koordinasi : menara gelang,  puzzle 
         Fasilitas pendidikan yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan keseharian


2.Fasilitas yang berkaitan dengan kehidupan keseharian, berupa permainan untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari :


         Latihan kebersihan dan gosok gigi
         Latihan berpakaian dan bersepatu
         Permainan dengna boneka
         Fasilitas pendidikan yang berkaitan dengan motorik kasar


3. Fasilitas yang berkaitan dengan latihan motorik kasar diantaranya dapat berupa :


         Latihan bola kecil
         Latihan bola besar
         Permainan keseimbanga


D.    SLB – D (Tuna Daksa)


anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan atau kecacatan pada fisiknya, yaitu pada sistem otot, tulang dan persendian akibat dari adanya penyakit, kecelakaan, bawaan sejak lahir, dan atau kerusakan di otak


a.      Menurut dampak gangguan
1.    Gangguan Primer (langsung) : dirasakan langsung oleh individu seperti gangguan mobilitas atau ambulasi, gangguan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Aktivity of Daily Living/ADL), gangguan dalam komunikasi, gangguan fungsi mental, dan gangguan sensoris
2.    Gangguan Sekunder (Tidak Langsung) : merupakan reaksi yang dihasilkan oleh penderita seperti bagaimana anak menghadapi masalah dengan keterbatasannya


b.      3 kebutuhan dasar


1.    pelayanan medik ,guna mengurangi permasalahan yang dialami anak di bidang medis
2.    pelayanan rehabilitasi dan habilitasi ,guna mengurangi gangguan
3.    pendidikan khusus, guna mendidik anak dengan optimal sesuai dengan kemampuan


c.       Pendidikan


1.    Sekolah yang menangani anak-anak tunadaksa : SLB-D YAPC.
2.    Tujuan Sekolah : mengembangkan potensi siswa secara optimal, agar siswa dapat mandiri-minimal dapat mengurus dirinya sendiri, menjadi lebih baik atau meningkat kualitas hidupnya.
3.    Prinsip tata ruang belajar : mudah keluar masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian.
4.    Staf pengajar tdd : guru yang ahli dalam mengatasi anak tunadaksa dan guru regular, psikolog anak, dokter ahli anak, dokter ahli rehab medis, dokter ahli ortopedi, dokter ahli syaraf, guru BP, social worker, fisioterapist, occupational therapist, speechterapist, orthotic dan prosthetic.
5.    Bimbingan belajar khusus meliputi : bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung.
6.    Jenis Kelas yang diperlukan : Ruang untuk IPA, IPS , Seni, Olahraga, Ruang terapi, Ruang bermain motorik, Ruang eksperimen yang dibuat untuk anak eksperimen apa saja yang disuka, Ruang Ketrampilan.


d.      Pelaksanaa belajar


1.    Dilaksanakan per kelompok yang kemampuannya sama atau hampir sama.
2.    Bertitik tolak pada kemampuan masing-masing anak dengan berprinsip pada individualisasi pengajaran.
3.    Melaksanakan evaluasi belajar, baik tentang hasil belajar maupun proses belajar
4.     Memberikan bimbingan belajar khusus bagi anak yang secara individual mengalami kesulitan dalam belajar seperti melalui remedial teaching.
5.     Sekolah  wajib mengetahui minat dan kemampuan anak tuna daksa sehingga pasca sekolah, anak dapat dipersiapkan secara pembinaan sesuai dengan kemampuan dan jenis pekerjaan yang diasumsikan sesuai dengan kemampuan dan kepribadian.


E.   SLB – E (Tuna Laras)


Individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya


a.      Karakteristik


1.    Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
2.    Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman sebaya dan guru.
3.    Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
4.    Secara umum mereka selalu dalam keadaan tidak menggembirakan atau depresi dan emosi labil
5.    Merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.




b.      Klasifikasi menurut William M. Cruickshank (1975)


1.    The Semi-Socialize Child
Dapat membangun hubungan sosial, tetapi pada lingkungan tertentu, dimana lingkungannya menganut norma-norma tersendiri, yang bertentangan dengan masyarakat.

2.    Children Arrested at a Primitive Level or Socialization
Perkembangan sosialnya berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Tidak mendapatkan bimbingan sikap sosial yang benar dan terlantar dalam pendidikan membuat mereka cenderung melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.


3.    Children with minimum socialization capacity
Tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.


c.       Fasilitas


1.    SLB bagian Tunalaras adalah suatu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus bagi anak tunalaras.
2.    Kelas Khusus adalah suatu bentuk pelayanan pendidikan bagi anak yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus, termasuk anak tunalaras melalui kelompok belajar di lembaga pendidikan umum dengan menggunakan kurikulum umum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan.
3.    Guru Pembimbing Khusus/Guru Bantu adalah guru khusus yang tertugas di sekolah umum untuk memberikan bimbingan dan pelayanan kepada anak tunalaras yang mengalami kesulitan dalam mengikuti pendidikan dan sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
4.    Terapi Kelompok dan Terapi Perilaku Sosial.


Memampukan anak dalam berinteraksi dengan sekelilingnya sehingga perkembangan kognitifnya dapat berjalan dengan baik.


F.   SLB – G (Tuna Ganda)
anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius ,sehingga dia tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melaiankan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki.

a.      Karakteristik

  Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.
2. Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya.



b.      Klasifikasi

1.      Kelainan utamanya tunagrahita.
Gabungannya dapat tunagrahita atau tunanetra. Gabungan dengan tunanetrainilah yang dipandang paling berat cara menanganinya.
2. Kelainan utamanya tunarungu.
Gabungannya dapat tunagrahita atau tunanetra. Gabungan dengan tunanetra inilah yang dipandang paling berat cara menanganinya.

3. kelainan utamanya tunanetra.
Gabungannya dapat berwujud tunalaras, tunarungu, dan kelainan yang

4. Kelainanan utamanya tunadaksa.
Gabungannya dapat berwujud tunagrahita, tunanetra, tunarungu, gayaemosi, dan kelainan lain.

5. Kelainan utamanya tunalaras.
Gabungannya dapat berwujud austisme dan pendengaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar